Kemaksuman Nabi dalam Perspektif Al-Quran

Mengapa sebagian ayat al-Qur’an tidak sejalan dengan kemaksuman para nabi Allah? Untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, pertama-tama kita ...


Mengapa sebagian ayat al-Qur’an tidak sejalan dengan kemaksuman para nabi Allah?


Untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, pertama-tama kita harus mengupas makna kemaksuman (‘ishmah). Allamah Thaba-thabai Qs berkata, “Yang kami maksud dengan ishmah adalah adanya sesuatu (secara inheren) pada diri seorang maksum yang mencegah terjadinya sebuah perbuatan yang tidak dibenarkan, seperti berbuat kesalahan atau maksiat.”[1]


Fadhil Miqdad salah seorang teolog kawakan Syi’ah mengemukakan sebuah definisi yang lebih sempurna, “Ishmahmerupakan kemurahan yang dianugerahkan Tuhan kepada seorang mukallaf sedemikian sehingga dengan adanya kemaksuman ini maka tidak ada motif bagi seorang mukallaf untuk meninggalkan ketaatan atau mengerjakan maksiat, meski ia mampu melakukan hal tersebut. Anugerah ini dengan dihasilkan seiring dengan munculnya malakah (penguasaan sempurna) bagi mukallaf tersebut yang mencegahnya untuk tidak berbuat maksiat. Di samping itu, ia mengetahui ganjaran ketaatan dan hukuman maksiat serta takut terhadap hukuman karena melakukan tark awla (meninggalkan yang utama) atau perbuatan yang dilupakan.”[2]


Poin yang harus diperhatikan di sini adalah bahwa “ishmah” sekali-kali tidak pernah memaksa seorang maksum untuk melaksanakan ketaatan atau meninggalkan maksiat. Dan tidaklah demikian bahwa seorang maksum tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perbuatan dosa dan kebebasan ternafikan darinya, melainkan iman sempurna, ilmu dan takwa pada tingkatan tertinggi yang menahannya untuk berbuat dosa. Dengan sebuah tuturan, merasakan (istisy’âr) keagungan Tuhan dan perhatian terhadap keindahan dan kesempurnaan-Nya yang menjadi penghalang seorang maksum untuk tidak terjerembab dalam kubangan maksiat atau meninggalkan ketaatan kepada Tuhan. Di samping itu, dalam kaitannya dengan para nabi dan maksum terdapat banyak riwayat yang menandaskan bahwa mereka mendapatkan pertolongan Ilahi, dan Allah Saw menguatkan mereka dengan media Ruhul Qudus, Ruhul Iman, Ruhul Quwwah, Ruhusyahwat dan Ruhulmudrij.”[3]


Dalil kemaksuman para nabi:


Sebelum bersandar pada lahir ayat-ayat al-Qur’an, kiranya kita perlu memperhatikan poin berkut ini bahwa lantaran tiada kontradiksi antara akal dan wahyu, maka seyogyanya ayat-ayat dimaknai sehingga selaras dengan hukum definitif akal.


Khususnya dalam masalah kemaksuman para nabi, kami akan menyebutkan hanya satu dalil rasional. Muhaqqiq Thusi Rah dengan redaksi singkat namun padat menuturkan, “Kemaksuman merupakan suatu hal yang mesti bagi seorang nabi sehingga lahir kepercayaan kepadanya dan kesimpulannya dengan kepercayaan ini tujuan dapat tercapai (memberi petunjuk kepada umat).” Oleh karena itu, keharusan kemaksuman para nabi lantaran adanya kepercayaan (trust) yang disandarkan kepada para nabi.


Sebagian periset menjelaskan dalil kemaksuman para nabi, “Tatkala keberadaan Tuhan, dengan segala sifat kesempurnaan dan keindahan-Nya, telah tertetapkan maka wahyu dan kenabian umum juga akan tertetapkan. Matlab lainnya yang akan dihukumi oleh akal adalah keharusan kemaksuman para nabi dalam menerima dan menyampaikan wahyu. Artinya Allah Swt memilih seorang nabi untuk membimbing para hamba-Nya. Dan niscaya Tuhan akan mengutus seorang nabi yang maksum dari segala jenis kelalaian dan kealpaan – apatah lagi dosa – dalam menerima dan menyampaikan wahyu. Lantaran apabila tidak demikian, maka hal ini akan bertentangan dengan hikmah kenabian, pewahyuan kitab dan pengutusan para rasul, yang memiliki akar pada hikmah penciptaan. Hikmah pengutusan para rasul adalah untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia. Dan hal ini akan dapat tercapai tatkala para pembawa pesan Ilahi terjaga dan maksum dari kesalahan, kelalaian dan kealpaan dalam menerima dan menyampaikannya.


Demikian kaidah teologi yang berakar pada sifat-sifat Ilahi, seperti ilmu, kekuasaan, hikmah penciptaan, hikmah penetapan syariat dan akhirnya sucinya Tuhan dari segala jenis keburukan, kezhaliman dan (melakukan) perbuatan sia-sia. Apabila seorang rasul melakukan kesalahan dalam menerima atau menyampaikan wahyu, maka hal itu akan menunjukkan kebodohan, kelemahan dan ketidaklayakan dalam perbuatan rububiyah Ilahi. 


Bahkan, apabila seorang nabi tidak harus maksum, atau bimbingannya terjadi kesalahan yang disengaja atau kelalaian maka umat tidak akan memiliki kepercayaan yang diperlukan atas kenabiannya atau dimensi Ilahiah seluruh taklif dan pesan-pesannya. Pada bagian pertama, kejahilan dan kesesatan umat. Dan bagian kedua adalah kesia-siaan dimana Tuhan suci dari dua perkara ini.[4]


Sejauh ini, definisi kemaksuman telah terang dan rahasia kemaksuman para nabi juga menjadi jelas. Dan sebagian dalil-dalil rasional atas keberadaan dan keharusan kemaksuman pada para nabi juga telah jelas. Sebagai kelanjutannya, kita akan membahas ayat-ayat al-Qur’an yang dikelompokkan ke dalam dua bagian pembahasan:


Bagian pertama, ayat-ayat yang menjelaskan kemaksuman para nabi.


Bagian kedua, ayat-ayat yang secara lahir tidak sesuai dengan derajat kemaksuman para nabi. Dan terakhir sebuah kesimpulan jawaban akan menjadi jelas.


Bagian pertama: Ayat-ayat yang menandaskan kemaksuman para nabi


Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan pada kepemilikan bernama “kemaksuman” (ishmah) pada nabi-nabi kendati redaksi ishmah tidak disebutkan pada ayat-ayat tersebut. Akan tetapi makna dan apa yang dipahami atau kemestian kepemilikan (malakah) tersebut dapat kita simpulkan dari ayat-ayat terkait. Ayat-ayat ini dapat ditelaah dalam dua sub-bagian.


Sub-bagian pertama: Ayat-ayat yang memandang para nabi sebagai orang-orang mukhlash (yang diikhlaskan) yang tidak mampu terjangkau oleh godaan setan. Dan sebagai kesimpulannya mereka harus maksum.


Pada surah Shad disebutkan, “Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai tangan (yang perkasa) dan mata (yang melihat).Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) ketulusan yang istimewa, yaitu selalu mengingat negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa‘, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (Qs. Shad [38]:45-48)


Pada ayat-ayat ini,  disebutkan sebagian nama dari para nabi sebagai “orang-orangmukhlash” dan “orang-orang pilihan.” Dan orang-orang mukhlash adalah orang-orang yang tidak berada dalam sasaran tembak setan. Setan, dalam bahasa al-Qur’an disebutkan, “Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang disucikan (dari dosa) di antara mereka.” (Qs. Shad [38]:83) Dan juga,“kecuali hamba-hamba-Mu yang tersucikan di antara mereka.” (Qs. Al-Hijr [15]:40)


Sub-bagian kedua: ayat-ayat yang menjelaskan “petunjuk Ilahi” pada seluruh nabi. Seperti, “Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya‘qub kepada Ibrahim. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunan Nuh, yaitu Dawud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, (dan Kami lebih utamakan pula) sebagian dari nenek moyang, keturunan, dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi dan rasul) dan Kami memberikan petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus. (Qs. Al-An’am [6]:84-90)


Ayat-ayat Ilahi ini menandaskan bahwa para nabi Ilahi mendapatkan petunjuk Ilahi. Demikian juga pada surah al-Zumar disebutkan, “Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?”(Qs. Al-Zumar [39]:37)


Karena itu, seseorang yang berada di bawah petunjuk Ilahi, sekali-kali tidak akan pernah tersesat. Dan karena perbuatan dosa dan maksiat salah satu jenis kesesatan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa para nabi Ilahi adalah orang-orang maksum.


Ayat-ayat ini menegaskan bahwa para nabi adalah orang-orang pilihan merupakan dalil yang lain atas kemaksuman para nabi. Karena mereka telah terpilih untuk membimbing orang lain, maka tentu saja adalah orang-orang yang telah mendapat petunjuk dan maksum. Di samping itu, pada ayat terakhir, Allah Swt menitahkan kepada Nabi Saw untuk mengikuti petunjuk mereka dan tentu saja mengikutnya Nabi Saw, dengan keagungan dan ketinggian derajat, menandaskan kemaksuman mereka. Dan kalau tidak demikian mengikutnya Nabi Saw tanpa reserved dan syarat kepada orang yang tidak maksum boleh jadi bermuara kepada kesesatan.


Bagian kedua: Ayat-ayat yang menyeru kepada kaum Muslimin untuk mentaati Rasulullah dan mengikutnya.


Seperti pada ayat, “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Qs. Ali Imran [3]:31-32) Atau pada ayat lain Allah Swt berfirman, “Barang siapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. Al-Nisa [4]:80)


Terdapat ayat-ayat lainnya yang menunjukkan pada ketaatan tanpa tedeng aling-aling kepada Rasulullah Saw. Dan apabila ketaatan kepada seseorang tanpa tedeng aling-aling diwajibkan maka hal menunjukkan kemaksumannya dan terpeliharanya dari kesesatan. Kalau tidak demikian, maka nabi akan menjadi sebab kesesatan orang lain.


Selain tiga bagian ini, terdapat ayat-ayat lainnya yang menunjukkan pada kemaksuman para nabi atau pribadi Rasulullah Saw dalam menyampaikan wahyu dimana dua ayat akan disebutkan di sini sebagai contoh:


Ayat pertama: “(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka Dia menetapkan para penjaga (malaikat) di hadapan dan di belakangnya.supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya para rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhan mereka. Dan ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu dengan detail.” (Qs. Al-Jin [72]:26-28)[5]


Ayat kedua, “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan menyucikan kamu sesuci-sucinya.” (Qs. Al-Ahzab [33]:33) Kehendak Tuhan pada ayat ini adalah kehendak takwini bukan kehendaktasyri’i.[6] Karena kehendak Ilahi tidak akan pernah menyelisih, maka jelas kehendak Ilahi pasti terlaksana bahwa Ahlulbait suci dari segala jenis nista, kekotoran dan dosa. Demikianlah derajat kemaksuman.


Terkait tentang siapa Ahlulbait itu bukan menjadi obyek pembahasan kita kali ini.[7]Namun yang pasti bahwa Nabi Saw terdapat di antara mereka. Tujuan kita adalah menetapkan kemaksuman para nabi melalui ayat-ayat al-Qur’an. Karena itu, secara pasti ayat belakangan menjelaskan kemaksuman Nabi Saw dari segala macam noda dan dosa. Dengan tidak disertakannya ucapan secara rinci (’adam al-qaul bi al-fashl) maka kemaksuman seluruh nabi tertetapkan.


Dengan kata lain, terkait kemaksuman para nabi maksimal terdapat dua pendapat:


Pertama, adanya kemaksuman dan yang kedua tiadanya kemaksuman. Tidak terdapat pandangan ketiga yang menjelaskan secara rinci, yaitu menetapkan kemaksuman sebagian nabi, misalnya Nabi Saw. Dan menafikan kemaksuman nabi-nabi lainnya.  Karena itu, karena kita telah menetapkan kemaksuman Nabi Saw, maka hal itu meniscayakan kemaksuman para nabi lainnya.


Bagian kedua adalah ayat-ayat yang secara lahir berseberangan dengan kemaksuman para nabi.


Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang secara lahir berseberangan dengan kemaksuman para nabi.  Namun harus diperhatikan bahwa tatkala kemaksuman para nabi telah ditetapkan melalui dalil-dalil rasional maka diperlukan ketelitian dalam mengkaji makna-makna ayat yang tidak selaras dengan dalil rasional. Dan harus diupayakan memahami maksud hakiki ayat terkait. Adalah gamblang bahwa mengkaji seluruh ayat-ayat memerlukan ruang dan waktu yang luas dan perlu merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang lebih jeluk membahas masalah ini. Namun sebatas menjawab pertanyaan yang mengemuka sebagian ayat tersebut akan menjadi obyek telaah dan kajian di sini:


1.     Surah al-Zumar, “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Qs. Al-Zumar [39]:65-66)


Boleh jadi ada orang yang mengalami waham (delusi) beranggapan bahwa ada kemungkinan para nabi mempersekutukan Tuhan kalau tidak ayat di atas tidak akan memberi peringatan semacam ini.


Jawab: Para nabi memiliki ikhtiar dan kekuasaan untuk mempersekutukan Tuhan karena sebagaimana yang telah kami katakana bahwa kemaksuman tidak bermakna ternafikannya ikhtiar dan kekuasaaan untuk tidak melakukan dosa atau syirik. Namun sekali-kali para nabi tidak akan menjadi musyrik. Lantaran ketinggian derajat makrifat mereka dan hubungan langsung dan juga berkesinambungan mereka dengan Sumber Wahyu sekali-kali tidak memberikan peluang kepada mereka untuk berpikir mempersekutukan Tuhan meski sedetik saja.


Karena itu, pertama, kandungan ayat di atas merupakan satu redaksi kondisional yang menunjukkan bahwa terjadinya “tâli” (anteseden) bersyarat pada terjadinya “muqaddam” (preseden), dan tidak menunjukkan terjadinya sebuah perbuatan.  Kedua, maksud ayat adalah menjelaskan bahaya  syirik dan memahamkan bahwa syirik sekali-kali tidak dapat diterima termasuk dari para nabi. Sejatinya dengan redaksi ini, taklif orang-orang beriman menjadi jelas. Sebagaiman dalam bahasa Arab terdapat sebuah pepatah yang berkata, “Berkata kepada pintu supaya dinding mendengarkan.”[8]  


Juga diriwayatkan dari Imam Ridha As bahwa beliau bersabda, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat sedemikian sejatinya adalah umat meski yang menjadi obyek firman Tuhan (mukhatab) adalah para rasul Tuhan.”[9]


Terdapat ayat yang serupa dengan ayat di atas, misalnya pada ayat, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka engkau tidak akan memiliki pelindung dan penolong dari Allah.” (Qs. Al-Baqarah [2]:120)


Apabila ditanyakan apakah mungkin Nabi Saw, dengan derajat kemaksuman  yang dimilikinya, mengikuti agama Yahudi? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus berkata bahwa pertama, redaksi ayat ini adalah redaksi kondisional. Dan redaksi kondisional tidak menunjukkan pada terjadinya sebuah peristiwa. Kedua, kemaksuman Nabi Saw tidak memustahilkan perbuatan dosa. Kendati ilmu, takwa dan iman nabi pada tataran yang tidak memberikan peluang kepada nabi untuk melakukan dosa. Ketiga, boleh jadi yang diajak bicara ayat ini adalah semua orang.


2.  “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan (untuk mengembangkan dakwah Ilahi), setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Tapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, agar  Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang hati mereka berpenyakit dan yang berhati kasar. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Qs. Al-Hajj [22]:52-54)


Ayat-ayat ini adalah sandaran terpenting bagi orang-orang yang berpandangan tiadanya kemaksuman pada nabi-nabi. Orientalis juga menyodorkan ayat-ayat ini untuk meragukan kebenaran wahyu. Mereka beranggapan bahwa godaan setan pada harapan-harapan para nabi bermakna intervensi setan dalam urusan wahyu. Dimana sejatinya mereka ingin menginkari kemaksuman para nabi dalam menyampaikan wahyu.[10] Atau maksud mereka adalah bahwa setan mewas-wasi seluruh hati para nabi dan menggagalkan tekad mereka supaya para nabi meninggalkan pekerjaan memberi petunjuk kepada masyarakat dan memandang mereka sebagai sebuah kaum yang tidak dapat diberikan petunjuk.[11] Padahal jelas sekali bahwa maksud ayat ini tidaklah demikian. Sebagaimana Tuhan secara tegas menafikan godaan dan bisikan pada wujud kudus para nabi dan bahkan hamba-hamba pilihannya.[12]


Karena itu, penafsiran yang benar dari ayat ini adalah bahwa pada setiap masa para diutus untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia sehingga mereka menjelaskan ayat-ayat Ilahi bagi umat manusia. Setan dari golongan jin dan manusia,  senantiasa bermaksud menggangu seruan mereka. Dan membisikkan pelbagai persoalan sehingga pengaruh-pengaruh hidayat tabligh para nabi dapat digagalkan. Mereka ingin menyesatkan manusia dan menghasut manusia untuk menentang para nabi.[13] Sebagaimana firman Allah Swt, “Setan itu memberikan janji-janji (bohong) kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (Qs. Al-Nisa [4]:120)


Pada ayat-ayat ini AllahSwt menegaskan bahwa “Kami tidak akan tinggal diam di hadapan segala agenda dan aktifitas setani ini. Kami menangkan mereka atas pelbagai agenda ini dengan menolong para nabi dan kaum Mukminin.


3.      Ayat-ayat yang berkenaan dengan Nabi Adam As yang disebutkan dalam beberapa masalah. Di antaranya ayat-ayat 35-37 surah al-Baqarah, ayat-ayat 19-24 surah al-‘Araf dan ayat-ayat 115-123 surah Thaha dimana secara lahir menunjukkan pada tertipu, bermaksiat dan sesatnya Adam.  Dan sebagai kesimpulannya menjelaskan tentang tiadanya kemaksuman padanya.


Dalam menjawab isykalan ini harus dikatakan dengan beberapa cara: Pertama, larangan pada ayat di atas adalah larangan irsyadi (himbauan) dan bukan larangan maulawi (harus ditinggalkan) dan tahrimi (haram tatkala dilanggar). Dan bahasa larangan ini adalah bahasa nasihat dan himbuan yang memberikan berita tentang konsekuensi perbuatan. Dan tidak dilakukannya perintah irsyadi atau melanggar larangan irsyadi (himbauan) tidak akan menciderai konsep kemaksuman. Kedua, dengan asumsi bahwa perintah dan larangan pada ayat  yang dimaksud adalah perintah dan larangan maulawi maka hal ini merupakan tark aula dan melanggar hal ini tidak tergolong sebagai dosa mutlak yang umum dikenal orang. Melainkan termasuk sebagai dosa nisbi. Artinya tidak layaknya perbuatan ini dilakukan oleh orang seperti Adam dan populer disebutkan bahwa “kebaikan-kebaikan orang-orang bijak adalah keburukan-keburukan bagi orang-orang yang didekatkan.” (hasanat al-abrar sayyiat al-muqarrabin). Ketiga, apa yang berseberangan dengan derajat kemaksuman adalah maksiatnya seorang manusia yang memiliki taklif. Sementara Nabi Adam masa taklif, tabligh dan syariat belum lagi dimulai. Karena itu pelbagai penentangan sebelum adanya syariat tidak dapat bertentangan dengan derajat kemaksuman.[14] Dari sisi lain, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Adam di sini adalah derajat kemanusiaan dan keadaman. Bukan pribadi Adam bapak manusia yang merupakan salah seorang nabi dan manusia pilihan Ilahi. Di samping itu, apabila yang dimaksud adalah Adam sebagai bapak manusia secara lahir ayat-ayat adalah medali kenabian diserahkan kepadanya setelah taubat. Bukan sebelumnya. Karena itu apabila ada orang yang yakin bahwa para nabi pada masa risalah mereka terjaga dari dosa dan kesalahan maka sekali-kali hal itu tidak akan menciderai derajat kemaksuman yang mereka miliki.  Kecuali ia berpandangan bahwa orang-orang maksum harus bermula semenjak mereka lahir.[15]


4.     Ayat-ayat yang bertautan dengan nabi-nabi lainnya: ayat-ayat ini membawa pesan bahwa sebagian nabi melakukan kesalahan atau dosa atau pengakuan kepada kesalahan mereka sendiri yang bertentangan dengan derajat kemaksuman. Ayat-ayat ini bertalian dengan Nabi Nuh, Ibrahim, Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Ayyub dan Yunus As. Namun untuk mengkaji ayat-ayat terkait memerlukan waktu yang lumayan banyak, dengan demikian bagi mereka yang tertarik kami persilahkan untuk merujuk kepada kitab-kitab tafsir.


5.     Ayat-ayat yang berkenaan dengan kemaksuman pribadi Nabi Pamungkas Saw dan klaim-klaim orang-orang yang menentang kemaksuman ini. Di antaranya ayat-ayat tersebut termaktub pada surah al-Fath yang menegaskan, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. supaya Allah memberi ampunan terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang (yang disandarkan oleh kaummu kepadamu) serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memberikan petunjuk kepadamu kepada jalan yang lurus.” (Qs. Al-Fath [48]:1-2) secara lahir ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Saw dulunya berdosa dan akan melakukan dosa dan Tuhan mengampuninya berkat perjanjian damai Hudaibiyyah dan kemenangan yang diraihnya.  


Dalam menjawab keraguan (syubha) ini harus dikatakan bahwa pertama makna “dzanb” (dosa) dan “ghufran” (pengampunan) yang digunakan pada ayat ini adalah makna leksikalnya. “Dzanb” secara leksikal adalah pengaruh buruk dan ikutan-ikutan perbuatan. “Ghufran” bermakna tirai dan penutupan. Kesimpulannya kedua redaksi ayat ini dapat dimaknai “Kami telah memberikan kepadamu sebuah kemenangan sehingga dengan perantara kemenangan ini akibat-akibat yang dimunculkan dari risalah yang engkau sampaikan akan ditutupi.


Penjelasan: Orang-orang musyrik Mekah, baik pra atau pasca hijrah berpikiran buruk terhadap Islam dan pribadi Rasulullah Saw dimana dengan kemenangan-kemenangan setelah semua itu kebatilan akan sirna dan pelbagai konsekuensi dakwah Nabi Saw yang semenjak awal kehidupan orang-orang musyrik telah goyah, dengan media kemenangan Nabi Saw, pelan-pelan akan dilupakan.[16]  Dengan pencirian “dzanb” dan “ghufran” pada ayat ini tidak digunakan sesuai dengan makna teknikalnya. Karena itu, tidak akan terdapat kontradiksi dengan derajat kemaksuman. Ketiga, dengan asumsi bahwa redaksi “dzanbdan ghufran” yang digunakan adalah makna teknikalnya maka yang dimaksud adalah sebuah perbuatan yang dalam pandangan orang-orang musyrik adalah sebuah dosa dan bertentangan dengan aturan-aturan mereka, bukan bertentangan dengan aturan-aturan Ilahi sehingga harus berseberangan dengan derajat kemaksuman.[17]


Ayat-ayat yang serupa dengan ayat-ayat di atas adalah, “Allah telah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang jujur dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?” (Qs. Al-Taubah [9]:43) Dimana sebagian orang beranggapan bahwa maaf dan ampunan dari sisi Allah merupakan dalil atas perbuatan dosa Nabi Saw dan memandang bahwa Nabi Saw tidak maksum.


Jawaban dari klaim ini adalah bahwa kalimat “’afaLlahu ‘anka” (Allah telah memaafkanmu) adalah sebuah kalimat informatif yang berisikan kalimat imperatif dan pada hakikatnya dua dan penghargaan serta penghormatan kepada Rasulullah Saw mirip dengan kalimat seperti “ayyadakaLlah” (semoga Allah menolongmu) dan “rahimakaLlah” (semoga Allah merahmatimu) dan semisalnya. Sebagai kesimpulannya tidak berseberangan dengan derajat kemaksuman. Menyitir Ustadz Allamah Thaba-thabai Ra makna-makna yang disodorkan orang-orang yang menentang konsep kemaksuman sejatinya adalah bermain-main dengan firman Allah Swt. Dan merupakan perlambang bahwa makna-makna ayat ini tidak mereka pahami.[18] Atau dengan kata lain, mereka tidak mengetahui “Alif Ba” al-Qur’an.[19]


Menurut kami apa yang telah disuguhkan di sini memadai untuk menetapkan derajat kemaksuman yang dimiliki oleh Nabi Saw. Namun terkait dengan mengapa dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat seperti ini dan mengapa Allah Swt berkata-kata dengan para nabi-Nya sedemikian (terkadang dengan nada keras) karena para nabi dengan seluruh kedudukan dan derajat yang tinggi serta kemaksuman yang mereka miliki, seperti manusia lainnya yang memiliki syahwat, amarah, insting dan kecenderungan psikologis yang memerlukan petunjuk dan bimbingan Ilahi. Sedemikian sehingga apabila sedetik saja diserahkan kepada mereka maka niscaya mereka akan binasa. Dan untuk orang-orang penting seperti ini yang memikul amanah sebagai pemimpin umat, sedetik saja lalai, lemah, payah dalam menyampaikan risalah maka akan termasuk sebagai dosa besar. Karena itu, dijelaskan redaksi-redaksi keras semacam ini terkait dengan para nabi. Sebagaimana mereka sekali-kali tidak pernah merasa kaya dari doa dan ampunan Ilahi.[20]  


Kesimpulannya, pertama, ayat-ayat al-Qur’an yang secara lahir tidak sesuai dengan derajat kemaksuman para nabi harus di sandingkan dengan dalil-dalil rasional atau referensial. Kedua, kebanyakan dari ayat-ayat di atas apabila dimaknai dengan benar maka ayat-ayat tersebut tidak bertentangan dengan makam kemaksuman para nabi. Ketiga, banyak ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan pada wujud dan keharusan maksum pada nabi-nabi dimana contoh-contoh dari ayat tersebut telah disebutkan di atas.[Tanya Islam.Net]


Diadaptasi dari Site Islam Quest 


 


 


Sumber literatur untuk telaah lebih jauh:


1.    Ayatullah Ja’far Subhani, Mafâhim al-Qur’ân, jil. 4 & 5.


2.    Allamah Thaba-thabai, Tafsir al-Mizân, pada ayat-ayat yang menjadi obyek pembahasan.


3.    Ustadz Misbah Yazdi, Iman Semesta, Kenabian.


4.    Ayatullah Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, pada ayat-ayat yang menjadi obyek pembahasan.

loading...
Name

#ahlulbait #shalawat #doa #AlQuds #buku putih mazhab syiah #DR Ahmad Thayyib #Dzikir #ebooks #Fatimah #FikihSyiah #ImamAli #ImamHasanAlMujtaba #ImamKhomeini #isis #kitabsyiah #syiahmenjawab #alkafi #Mufti Ahlusunnah Mesir #Mufti Al-Azhar #Persatuan Umat Islam #Syiah Bagian dari ISLAM #syiahmenjawab #tabayyun #alibinabithalib #Umur #Walipitu #Walisongo #Wawancara Eksklusif 10 kegagalan memahami syiah 17 Agustus 2017 4 Pesan Nabi SAW kepada 'Ali as ABI ABI berkunjung Kemenko Polhukam abu bakar abu dzar abu dzar al-ghifary abu jaham Abu Turab Adab Berkomunikasi Dalam Quran agama Agama amp; Dunia Agama dan AKhlak Agama dan Dunia Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern Agama Memperkuat Diri Hadapi Kesulitan Agama Sadis agama untuk manusia Agresi Saudi agustinus ahkamul quran Ahli Ibadah Yang Riya' ahlul bait ahlul bayt ahlul bayt as ahlulbait Ahlulbait as adalah Ahlu adz Dzikr Ahlulbait as Bagaikan Pintu Pengampunan Ahlulbait Nabi as adalah Tali Allah Ahlussunnah ahlusunah Ahmad Taufik Jufry air Air Mata Kerinduan Uwais Al Qarani Kepada Rasul SAW Ajaran Ajaran Nabi Muhammad Saw Untuk Kehidupan ajwibah akal fitrah AKAR FITNAH akhlak Akhlak Imam Sajjad Pasca Karbala Akhlak Mulia Akibat Lalai Shalat Akidah Akidah Syiah Aktivis Al Mahdi al quran Al Quran al quran syiah Al-Fatihah al-ghaib Al-Ghazali Al-Kalbi Al-Qur'anul Karim Al-Quran Alam Ali Ali Akbar Ali ibn Abi Thalib ali khamenei ali shariati ali syariati aliran sesat Amalan Malam Nisfu Sya’ban amaliyah Amr bin Yasir an-Najasy an-Najazyi Anda Bertanya Anda bertanya SYiah menjawab Annemarie Schimmel Anti Stres anti terorisme Antologi Islam Apa Apa Definisi Roti? Apa yang Kita Pikirkan Api Takfiriah Yang Menjilat Diri Sendiri Arab Saudi Arbain Husaini Argumentasi Rasional Syiah Tentang Imamah Aristoteles asal-usul syi'ah Asas Politik Kanjeng Nabi Muhammad SAW Asuransikan dirimu dengan doa ini Asyura asyuro At-Taqrib Audio awjibah Ayat-ayat Keagungan Nabi Ayatollah Bahjat qs Ayatullah Nuri Hamadani Ayatullah Shafi Ghulpaghani Ayatulloh Az-Zahra bab Bagaimanakah Bahagia? bahagia Bahasa Agama BANGGALAH MENJADI BANGSA INDONESIA Bangsa Iran Bangsa Persia Bantahan Keras Bahwa Syiah Pengikut Ibn Saba' Bedah Buku Putih Mazhab Syiah Berbahagia karena berbagi jalanNya berbuat baik Berdzikir dalam Perspektif Imam Khomeini Berita Berkah Sang belahan jiwa Nabi SAW amp; Doa Ziarah padanya Bersama Tuhan Di Bulan Suci bersuci bertindak Berwisata dengan Kemuliaan Fatimah Azzahra Betulkah Syi'ah Mengkafirkan Sunni? bijak Biografi Biografi Allamah Thabathaba'i Biografi Imam Ali Biografi Ulama Syiah Bisik-bisik Obama Tentang Islam di Indonesia Budaya Budaya & Gaya Hidup Budaya amp; Gaya Hidup Buku Putih Mazhab Syiah: Fakta Eksistensi Syiah Bulan bung karno Bung Karno pun Napak Tilas ke Imam Husain di Karbala Bung Karno pun Ziarah Imam Husain di Karbala Buya Syafi'i Ma'arif Cahaya Cahaya Nabi Muhammad Cahaya Nabi Muhammad saw Cahaya Tuhan cak nun CARA MENDIDIK ANAK ala AMIRUL MUKMININ ALI BIN ABI THALIB (S.A) cerita cerita sufi Chat Cinta Cinta Anugerah Terindah Cinta kepada Husein Cinta kepada Nabi SAW Cinta Kepada Keluarga Nabi Muhammad SAW Cinta Menyatu dalam taat kepadaNya Cinta Rasulullah SAW Kepada Empat Sahabat Radhiyallahu'anhum Copernicus corak filsafat Syiah Dan Sinterklas Turut Melakukan Aksi Intifadah Bela Palestina Daras Akidah Daras Akidah MIsbah Yazdi Definisi Roti Deklarasi Bersama Pulangkan Pengungsi Sampang Delapan jalan menghapus dosa Demonstrasi di Yaman Dialog Newton Diam diskriminasi Do’a Doa Adilah Doa Adilah adalah salah satu doa yang dianjurkan dan diajarkan untuk mencegah kita kehilangan iman saat ajal menjemput nanti. Doa Ahad (Janji Setia) Doa Hari Jum’at Doa Jausyan Kabir Doa Keamanan Doa Kumayl/Hazrat Haidr as doa perpisahan ramdhan doa ramdhan Doa Tawassul Nabi dan Ahlulbaitnya yang suci Doktrin Dosa dua belas imam dunia islam Dunia Islam dzulhijah Editorial Empat Hal Yang Mematikan Hati Enam Hal Yang Dapat Menghapus Amal Kebaikan enggan Epistemologi Agama Eskalasi Intoleransi Takfiri di Yogyakarta etika Ramadhan Face Off "Palestine" Fajar 5 Simbol Persatuan Sunni-Syiah FAKTA FATIMAH Faktor Faktor Pemicu Perpecahan falasi Falsafah Kebangkitan Imam Husain Fana Fana dalam dunia Irfan fathimah Fathimah as tentang Keagungan Al-Qur'an fathul bari Fatimah 'alaihassalam FATIMAH AZ- ZAHRA: IBU dari AYAHNYA dan PENGHULU SELURUH WANITA fatwa Fatwa Fatwa Sesat yang mensesatkan fatwa imam Khamenei Fatwa Marja' Fatwa Sayid Khamenei Larangan Mencaci Sahabat dan Simbol-Simbol Ahlussunnah Fenomena Alam fikih fikih ibadah Filosofi Filsafat Filsafat Iluminasionis Filsafat Islam filsafat Kant Filsafat Nahwu fiqh Fiqh Ibadah fiqih Syiah Fiqih syiah najis Firaun Fisafat Fitnah Syiah fuqoha gagal memahami syiah gaib Galileo Gallery Gerakan Politik-Sosial Imam Khomeini Gereja Ghadir Ghadir Khum golden ways Grand Syaikh Al Azhar : Fatwa Larangan Pembunuhan Muslim Syiah Meredam Konflik Sektarian gubernur gubernur mesir Guru hadis hadis ahlulbait hadis syiah Hadist Hadist Rosululloh Hadist Tsaqalain hadits Hadits hadits 12 khalifah. khulafa ar Rosyidin hadits ahlulbait hadits nabi haji Haji Langganan Hajj (The Pilgrimage): Menghampiri Allah Swt hak hak asasi manusia HAK IBU DAN HARI IBU hak sahabat hak teman HAKEKAT NISFU SYA'BAN Hakekat Puasa Menurut Perspektif Al-Quran Hakikat Dzikir Hakikat Syafaat dan Tawassul Menurut Al-Quran hakim Hakim Cium Tangan Terdakwa Halilintar HAM hamba Harapan Hari Internasional al-Quds di Semarang diikuti oleh ribuan orang yang cinta kemerdekaan dan perdamaian hari kemenangan Hari Raya Orang Berpuasa Harmoni Sunnah-Syiah di Irak Harmoni Titik-Temu Sunni/NU dan Syiah harmonis hasan al banna HASAN AL BANNA DAN PROGRAM PENDEKATAN SUNNI-SYIAH hasan al bashri Hasan al-Mujtaba Hati hawa nafsu hawa nafsu dalam al quran hadits hawa nafsu menurut syiah Hedonis Penyakit Kehidupan Hermeneutika hikmah hikmah imam Ali as Himah Hisbulloh Houthi hubungan hubungan antara agama dan akhlak hudud hukum hukum Islam hukum Qiyas hukum Tuhan Hume humor husain husain fadhlullah HUT RI ibadah wanita ibnu hajar ibu Ibu Kaum Mukminin dan Keutamaan Wanita Muslim Pertama Ideologi Syi'ah Idul Qurban dan Penyembelihan ihtiyath ijtihad ikhtilaf ilahi Ilmu Ilmu Agama Ilmu Firoq Image imam imam 12 imam ali Imam Ali Adalah Rahmat Imam Ali Al Ridho as Imam Ali ar-Ridha imam ali bin abi thalib Imam Ali dan Dua Orang Yahudi Imam ALi dan Filsafat Nahwu imam ali khamenei Imam Ali Zainal Abidin Imam Ali Zainal Abidin as Imam As-Shadiq Imam Asajad Imam Hasan Imam Hasan al mujtaba Imam Hasan dalam literatur Syiah Imam Hasan menurut Syiah Imam Husain IMAM HUSAIN PRIBADI DIDIKAN RASULULLAH SAW. Imam Husain Tragedi Karbala Imam Husein imam ja'far shadiq Imam Ja'far Shadiq dalam Mengurai Penyimpangan Imam Jafar Imam Jafar Asshadiq as imam Jafar shadiq as Imam Jafar Sodiq Imam Jawad imam khomeini Imam Khomeini Membangkitkan Kesadaran Umat Imam Khumaini Imam Mahdi Imam maksumin Imam Musa Al Kazhim as Imam Musa Kazhim as Imam Musa Kazim Imam Sajjad Imam Syiah imam syiah. imam ahlulbayt as IMAM ZAMAN as imamah Imamah amp; Wilayah imamah dan khilafah Imamah Imam Ali Imamah menurut syiah Iman iman dan amal. korelasi iman dan amal individu Indonesia indonesia merdeka Info Syi’ah Info Syiah Instropeksi Diri Internasional Iran Iran-kah Bangsa Yang Dijanjikan Dalam Surat Muhammad? Iranphobia dan Syiahphobia Irfan Irfan amp; Tasawuf Irfan dan Akhlak Irfan dan Filsafat Irfan Praktis Irfan Teoritis ISIS Berencana Teror Iran ISIS Perusak Citra Islam Muhammadi (Saw) iskandariah Islam islam damai Islam dan Keindonesiaan islam nusantara Islamisme Islamphobia israel istibra ISTIKHARAH DENGAN TASBIH Jabatan itu tidak lebih berarti dari sepatuku Jabir ibn Abdullah Al-Anshari Jadilah Orang Baik jagalah persatuan umat Jalaludin Rahmat Jalaludin Rumi Jangan Ada Ruang di Indonesia untuk Terorisme Jangan berpangku tangan Jawa Jejak-jejak Imam Ali pada Bendera Macan Ali Cirebon Jokowi Jokowi: Gus Dur tak rela konstitusi diremehkan judul Jurnalis Juru Selamat Kalau Di Jawa Ada Wali Songo Di Bali Punya Wali Pitu Kamu adalah Kebiasaanmu Kanjeng Nabi SAW Karbala KATA DAN UJARAN KATA-KATA YANG MEMBUAT ABU THALIB MANTAP keadilan kebahagiaan Kebangkitan Imam Husain keberkahan bulan ramadhan Kebhinekaaan Kedatangan Imam Mahdi as Kedudukan Bersikap Jujur Dalam Hidup kedudukan perempuan Kefakiran dan Kebakhilan kegagalan memahami syiah Keharmonisan Sunni-Syiah di Masjid Yardyam Rusia Kehendak Bebas Dan Takdir kehidupan Kehidupan Ali ibn Abi Thalib Keilmuan Islam Kejahilan yang paling besar kelahiran keledai Keluarga Nabi KELUH KESAH KAWAN (1) KELUH KESAH KAWAN (2) Kemaksuman Nabi dalam Perspektif Al-Quran Kemaksuman Nabi Muhammad SAW Kemaksuman Para Nabi Menurut Syiah Kembali Kepada Keaslian Jatidiri Manusia Kemenag Gelar Dialog Lintas Guru Agama Untuk Tingkatkan Toleransi Kemenangan Sudah Dekat kemiskinan Kenabian Kenapa Selalu Berpecah-belah? Kepeloporan Syiah di bidang Ilmu Kalam Kepemimpinan Dan Imam Maksum Kepler kerajaan aceh kerjasama Kesatria Karbala Ali akbar kesetaraan Kesucian ketenagakerjaan Keteraturan Keteraturan Fenomena Semesta Ketika Anak Melawan Kita Ketika Binatang-Binatang Berhaji Ketuhanan keutamaan bulan Keutamaan Hari dan Bulan Sya'ban khalifah khilafah khomeini Khotbah 1 Khurasan khutbah Imam Ali as Kilas Balik Murtadha Muthahhari kisah kisah bijak kisah hikmah Kisah Romantis Keluarga Kenabian Kisah sakitnya Rasul sebelum Wafat Kisah sebuah cincin Mulia Kita atau Imam Zaman yang Ghaib? Kita Beragam kitab kitab syiah Koalisi Saudi-Zionis Gagal Tenggelamkan Isu Quds dan Palestina Konsep Ketuhanan Konsep Ketuhanan Dalam Filsafat Konsultan Nikah Saudi bolehkan suami pukuli istri secara Islami Korban Crane kristen Kritik Israel Kumail kurr Lagu Kebangsaan Lahirnya Sang Putera Ka'bah lailatul qadar menurut syiah lailatul qadr Larangan Menolak Peminta Lau Kana Bainana Al-Habib Law Kana Bainana Lentera Ilahi lidah Link logika Lord of The Ring luqman luqman hakim Ma'arif Ma’rifah madzhab Ja'fari makna haji Makna Kesyahidan Makna Syahadah Makrifatullah malaki tabrizi malam di malam lailatul qadar malik asytar mantan Walikota London diskors manusia manusia dan alam semesta Masa Dhuhur Masa IMAM ZAMAN as masalah masehi masuknya islam masyarakat Matahari mazhab Melatih Diri Melatih Diri untuk Hidup Melihat Allah Melihat Tuhan Memohon Taufik Mempelajari Ilmu Agama Menahan Tangisan Si Miskin Menakar Kualitas Sang Mufti Ketika Murka Mencegah Predator Anak Menembus ruang dan waktu bersama Jibril Mengapa Asyura Diperingati Tiap tahun Mengapa Menangis Atas al Husain mengenal hawa nafsu Mengenang dan Berbahagia Menggalang Persatuan Seperti yang diajarkan Kanjeng Nabi SAW Menghadapi Kemarahan Dengan Santun Menghampiri Allah Swt menjadi manusia haji Menjadi Musafir Yang berhasil Menjaga Amalan MENJAGA HATI amp; LIDAH menjawab fitnah menjawab tuduhan menolak buku panduan MUI Menolak syiah Menyangkal Filsafat Hampa Merdeka mesiah Milad Fatimah Az Zahra as Mimpi yang Terbeli Motivasi Qurani Mozaik muamalah mudhaf Muhammad Muhammad saw Muhasabah diri Muhsin Labib MUI MUI dan Syiah MUI dan Tugas Mempersatukan Umat mujtahid mukallid Mukjizat Nabi Mukmin Adalah Sekufu Bagi Mukmin Munajat/Doa Murid murtadha muthahhari muslimah muthahhari muthlaq Mutiara Ahlulbait Mutiara Hikmah mutiara imam Ali as MY MOTHER IS THE MIRROR OF MY LIFE MY MOTHER IS THE MIRROR OF MY LIFE (2) Nabi Nabi Muhammad nahjul balaghah najasah Najh al-Balaghah nakhai nama Allah Nasab Imam Ali Nasehat Imam Khomeini (qs) untuk Seorang Muslim nashiruddin Nasional Nasionalisme Nasruddin Natal Dan Teologi Cinta Neo Teologi Nikah Mut`ah Nilai dan Kadar Manusia NKRI Harga Mati nominalisme NU Meminta Jokowi Bubarkan Ormas Keagamaan Anti Pancasila Nur Muhamad Nur Muhammad Nusantara Opini Orang tua dan orang hitam tidak akan masuk surga Orang yang berilmu dengan orang yang beriman sangat berbeda Orang Yang Sombong ORATOR ZALIM Orde Baru ormas ahlulbait indonesia Ormas Anti Pancasila Harus dibubarkan Pahala Memaafkan pajak pancasila Pancasila Jaya Pandangan Imam Ali as Tentang Kebodohan Pandangan Ulama dan Sejarahwan Tentang Imam Ali Zainal Abidin as Panjang Umur Para Sahabat PBNU pejabat Pelajaran Dari Yang Telah Berlalu pembalasan Pembantaian Imam Husain PEMBENCI DAN KEBENCIAN pembicara Pembuktian Wajibul Wujud Pemicu pemikiran Pemikiran dan Kepribadian Imam Khomeini Bagi Dunia pemimpin islam Pemimpin Non Muslim penalaran Pencipta Pencipta Lagu pendekatan sunni syiah pendengar Pengakuan Mahasiswa Asal Myanmar Tentang Syiah Pengangkatan Yazid Pengaruh Buruk Malas dan Solusinya pengertian pengetahuan Pengetahuan memberikan manusia wawasan dan kesadaran Pengetahuan menurut Imam Ali as Pengetahuan Umum Penghalang Kehadiran Hati Ketika Shalat Penghancuran Situs Kuno: dari Suriah hingga Yogya Penghormatan Imam Ali as Kepada Para Tamu Pengorbanan Imam Ali bin Abi Thalib as untuk Tamu penguasa islam Pengungsi Sampang Penolakan Ulama Islam Terhadap Gerakan Takfiri Pentingnya Sejarah PERANG MELAWAN KEBODOHAN Perbedaan Tidak Harus Diseragamkan perempuan perempuan muslimah Peringatan Wiladah Al-Mahdi Afs Peristiwa Karbala Permainan Politik di Balik Dukungan Wahabi Salafi Takfiri pernikahan Pernyataan Perpecahan persahabatan sunni-syiah Persatuan persatuan islam Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Ja'far as Persatuan Syiah-Sunni persaudaraan sunni-syiah persaudaraan umat Persefektif Al-Quran Perspektif Perspektif Imam Jafar Shadiq as tentang Sumber Pengetahuan Perspektif Jendral Gatot tentang Persatuan dan Pertahanan Indonesia Perspektif/Opini Pertolongan Allah Pesan Pesan Asyuro Sayidah Zainab Pesan Asyuro Sayidah Zainab as Pesan Asyuro Sayidah Zainab Singa Bani Hasyim Pesan dan Nasehat untuk MUI Pesan Haji Ayatollah Sayyid Ali Khamenei 2016 Ini Hadirkan Tetesan Airmata Pesan Haji Oleh Ayatollah Sayyid Ali Khamenei 2016 Ini Hadirkan Tetesan Airmata Pesan Haji Rahbar 2017 pesan imam ali Pesan Majma Jahani Ahlul Bait PESAN NATAL AYATULLAH KHAMENEI pesan persahabatan Pesan Rahbar Pesan Syahid Mohsen Phobia Terhadap Syiah? Itulah Desain Kepentingan Barat Pilkada Piramida Planet Planet Matahari plato Pokoknya kambing walaupun bisa terbang praktis Presiden Presiden Perintahkan Aparat Cegah Aksi Teror Saat Natal pria dan wanita Primordialisme Prinsip Kemahdian Dalam Al-Qur'an Profil Ahlulbait proklamasi Puasa puasa batin puasa lahir puasa ramadhan puisi Puteri kesayangan Nabi Putin Qiyas menurut Syiah Qosim sulaemani Quds Day Dalam Pandangan Imam Khomeini ra Quds Day in Semarang Quote Qur'an quraish Shihab RACHEL CORRIE CUKUPLAH MENGENALIKU Rahasia Bulan Rahasia Halilintar Rahasia Matahari rahbar Raja Saudi ramadhan ramadhan dalam hadits rasulullah dan ahlulbait Rasulullah SAW Simbol Persatuan realitas Rektor IAIN: Banyak Titik Temu Sunni (NU) dan Syiah Rencana Allah Pasti Indah Rene Descartes renungan renungan akhir ramadhan Renungan Tengah Malam retorika Revolusi revolusi iran Revolusi Mental amp; Aku (Bukan) Siapa risalah Rizqi Romawi Rosululloh Ruh Saat Tidur Rukyatullah rumah tangga RUMAH TANGGA YANG SEHAT PONDASI KOKOH SEBUAH NEGARA Rusia Komitmen Dukungan Kepada Negara-Negara Islam sahabat Sahabat Nabi Sahabat Nabi SAW sains Salah Memahami Hukum salman Sambut Tahun Baru Rahbar Menyampaikan Pesan Khusus untuk Rakyat Iran Sampah Sampah Hati Samudera Hindia Masa Depan Ekonomi Dunia Sastra Sastra Barat Sastra Islam satu tuhan Saudi Saydah Fatimah Sayid Hasan Alaydrus Sayidah Fatimah sayyid Ali Khamenei Sayyid Hasan Khomeini Sayyidina Hasan Sebaik-baik manusia Sedekah seimbang sejarah sejarah islam Sejarah Perkembangan Syiah di Indonesia sejarah syi'ah Seluruh manusia tertidur pulas. Ketika ajal tiba mereka baru sadar Semua Tentang Ali Karamallahu Wajhah seni Senjata Musuh Masa Kini Seorang penjual keripik singkong Seri Tanya Jawab Irfan Serial Karbala Seruan Kanjeng Nabi SAW sesat Setan setan tidak disiksa api neraka Setelah Kunjungan Raja Saudi: Melawan Ekstremisme? shahifah Mahdiyyah shalat shalat sufi Siah Nusantara Siapa "Habib" itu? Siapa dari kita yang paling banyak memakan kurma? siapakah ahlulbait nabi Sifat Af'aliyah SIfat Allah Sifat Dzatiyah Simbol Keagungan Spiritualitas Simbol Kesabaran Ahli Bait as Simbol Persatuan Dunia Islam Sirah Sirah Ahlulbait as skeptisisme skolastik socrates soekarno Sofis sosial studi skolastik Sumber-sumber Pendanaan ISIS Sunan Kali Jaga sunni sunni syiah Sunni-Syiah di Nusantara Sup Panas surat surat imam ali surat malik asytar Surat Muhammad syafaat Ahlulbait as Syafaat dan Optimisme Syafaat Nabi syahadah Syahid Murtadha Muthahhari Syaikh Al Azhar syarat. syarif radhi Syed Ahmad Baragbah tentang Ahlulbait dalam Hadits Nabi Syed Ahmad Baragbah tentang Syiah Dan Salah Faham Terhadapnya Syed Ahmad Baragbah tentang Taqiyah Menurut Islam Syiah syiah aceh Syiah adalah madzhab Islam Syiah adalah muslim syiah ali syiah antara iran dan indonesia Syiah dalam Lisan Rasulullah Saw Syiah Houthi syiah imamiyah Syiah Indonesia Syiah Islam Syiah Isna Asyariyyah Syiah Menjawab Syiah menjawab Tasawuf Syiah menurut Syiah syiah nusantara syiah saudi Syiah Sesat Syiah takwa Syiah Tidak Sesat Syiahisasi syiahnusantara Syiria syukur ta'abbudi Tabayun tabayun Syiah TABIAT MENGKAFIRKAN tabiin Tafaqquh Fiddin Tafsir Tafsir al-Quran tafsir birrul walidaen Tafsir Cemerlang tentang Islam Nusantara Tafsir Hikmah Tafsir Maudhu'i Tafsir Mudah Tafsir Surah al-Falaq Tafsir Surat AN-Nas tafsir syiah Tafsir Tematik Tahajud Menurut Ajaran Ahlul Bait As Takdir dan Logika Takfiri Takfirisme takhalli taklid TAKWA takwa bulan ramadhan takwini tamar Tangisan Pemimpin Iran Atas Tragedi Mina Tanya Jawab Tanya Jawab Irfan Tanya Jawab Isyu Fitnah terhadap Syiah Dengan Ahlinya Tanya Jawab Tasawuf Taqi Misbah Yazdi taqiyah Taqiyah Identik dengan Kemunafikan? taqiyyah Tasawuf Tasawuf dan Irfan Tasawuf Praktis Tasawuf Teoritis Tasbih Semesta Tashawuf Tasyri Tauhid Tauhid Dzat TAUHID PADA WUJUD MANUSIA Tauhid Semesta Tauhid Sifat Tawadhuk Kepada Manusia tawassul Tawassul 14 Manusia Suci tembang jawa Tentang Kejujuran Tentang Orang Arif Tentang Usia teologi teologi syiah teoritis terjadi Terjemah Al-Qur'an TERLAMPAU BERSUKACITA Ternyata Penemu Musik Adalah Orang Islam teror Thaharah Thomas Hobbes Tokoh Tragedi Karbala tragedi pembantaian keluarga nabi Tribute to International Quds Day 2012 Tuhan tuhan yang ghaib Tujuan Karbala Tukang cukur Tukang cukur dan Keberadaan Tuhan TV Indosiar Merevisi Fitnah Tentang "Syiah Wukuf di Karbala" Ubay ibn Ka’ab udul Ufuk ukhuwah ukhuwah Islam ukhuwah Sunni Syiah ulama Ulama Sunni Ulama Syiah Ulama Tafsir ulil amri Ulumul Qur'an Ummul Mu`minin Aisyah Berkisah Tentang Kemuliaan Sayyidah Fatimah as undang-undang undang-undang ketenagakerjaan uqala'i Urgensi Ukhuwah Islamiyah amp; Ukhuwah Wathoniyah Ushul Fikih Ustadz Muhsin Labib: Kilas Balik Murtadha Muthahhari Ustadz Taufiq Ali Yahya tentang Tawassul Uswah Video Videos Wafat Wajibul Wujud wali wali faqih Wali Sanga Wani Ngalah Luhur Wekasane wanita wanita muslim wanita muslimah wanita pilihan Warga Syiah Tolak Ubah Keyakinan Wartawan Koran Independent 'Shock' Berkisah Liputannya Tentang Long March Arbain Wasiat Imam Ali Kepada Umat Islam Wasiat Imam Jafar Shadiq Wawancara Wawasan Keislaman Wayang Kulit Wiladah "Sang Penunggang Terbaik" Wilaya'iyah Fakih wilayah Wirid As Sakran wudhu Yaman Yang paling menakjubkan Yazid berkuasa Yazid Naik Tahta Yesus dalam pandangan Imam Ali Bin Abi Thalib as yunani Zainab Cucu Rasulullah SAW Ziarah Kubur zulfikar
false
ltr
item
syiahnusantara.com: Kemaksuman Nabi dalam Perspektif Al-Quran
Kemaksuman Nabi dalam Perspektif Al-Quran
syiahnusantara.com
http://www.syiahnusantara.com/2017/02/kemaksuman-nabi-dalam-perspektif-al.html
http://www.syiahnusantara.com/
http://www.syiahnusantara.com/
http://www.syiahnusantara.com/2017/02/kemaksuman-nabi-dalam-perspektif-al.html
true
1073726697356742094
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy