Ghadir Khum & Kaum Orientalis

Ghadir Khum & Kaum Orientalis   Pengantar [1] Pada tanggal 18 Dzul-Hijjah penganut ajaran Syiah seluruh dunia mengadakan acara akbar kar...

masyhad ali


Ghadir Khum & Kaum Orientalis


 

Pengantar[1]

Pada tanggal 18 Dzul-Hijjah penganut ajaran Syiah seluruh dunia mengadakan acara akbar karena hari itu adalah hari  Idul GhadirKhum, hari ketika Rasulullah Saw menyampaikan ihwal Ali kepada umat: "Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya." Peristiwa ini, karena sedemikian penting bagi orang-orang Syiah sehingga tidak seorang ulama Islam  yang serius yang mengabaikan begitu saja perisitiwa ini. Tujuan tulisan ini adalah mengkaji bagaimana para orientalis mengambil peristiwa Ghadir Khum ini. Dengan menggunakan istilah orientalis, penulis bermaksud ulama Islam barat dan juga mereka yang berasal dari Timur yang menerima pendidikan Islam mereka di bawah pendidikan orang-orang orientalis.

Sebelum melangkah lebih jauh, kami akan menceritakan secara singkat peristiwa Ghadir Khum ini.  Narasi singkat ini –secara khusus– akan membantu mereka yang  belum mengetahui peristiwa ini.

Selepas menunaikan ibadah haji yang terakhir (hajjatul wida'), Nabi Saw menerima perintah dari Allah Swt: "Wahai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu; jika engkau tidak sampaikan, maka engkau tidak menyampaikan pesan-Nya sama sekali. Dan Allah akan melindungimu dari orang-orang yang kafir." (Qs. Al-Maidah [5]:67). Lalu Nabi Saw berhenti di suatu tempat yang bernama GhadirKhum pada tanggal 18 Dzulhijjah, tahun ke 10 setelah hijrah untuk menyampaikan pesan kepada para peziarah haji ketika itu, sebelum mereka pulang ke tempatnya masing-masing. Pada satu tempat, beliau bertanya kepada mereka yang hadir ketika itu (pengikut beliau), Apakah ia (Muhammad), lebih memiliki otoritas (awla) atas orang-orang mukmin lebih atas diri mereka sendiri, orang-orang yang hadir ketika itu menjawab : " Benar, memang demikian adanya wahai Rasulullah". Lalu ia mengangkat tangan Ali dan mengumumkan: " Man kuntu mawla, fa hadza Aliyyun mawla (Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya). Kemudian Nabi juga mengumumkan akan kepergiannya (wafat) dan meminta orang-orang beriman untuk tetap bersandar kepada al-Qur'an dan Ahlulbait. Demikianlah ringkasan bagian penting dari peristiwa Ghadir Khum.

Bagian utama dari tulisan ini dibagi sebagai berikut: Bagian kedua merupakan survei singkat dari pendekatan yang digunakan oleh kaum Orientalis dalam mengkaji Syiah. Bagian ketiga dari tulisan ini berkaitan dengan pendekatan yang digunakan untuk mengkaji Ghadir Khum secara khusus. Bagian keempatnya adalah pandangan kritis M.A. Syaban yang ia tulis ihwal peristiwa ini dalam Islamic History AD 600–750. Dan akan diakhiri dengan sebuah kesimpulan.

 

 

Kajian Syiah dan Kaum Orientalis

Ketika penulis Mesir, Muhammad Qutb, memberikan judul terhadap buku yang ditulisnya Islam: the Misunderstood Religion (Islam: Agama yang disalahpahami), ia secara santun mengatakan bahwa sikap muslim terhadap kaum Orientalis telah memperlakukan Islam dan Muslim secara umum. Kata "misunderstood" menyiratkan bahwa setidaknya, sebuah usaha asli yang diupayakan untuk memahami Islam. Namun, seorang kritis Orientalis lebih tajam mencermati masalah ini, Orientalis ini bernama Edward Said, katanya: "Hal yang paling sukar dipahami mendapatkan akademisi yang ahli dan pakar tentang Islam adalah menerima bahwa apa yang mereka katakan dan lakukan sebagai seorang ilmuan dan cendikia bermula dari konteks politik. Segala sesuatu yang bertalian dengan kajian keislaman pada masa kontemporer Barat matang dengan peranan penting politik, namun tidak ada seorang pun penulis dari kalangan Islam, apakah ia seorang pakar atau tidak, menerima kenyataan yang dikatakan oleh mereka. Secara objektif dapat diduga bahwa untuk sejalan dengan wacana yang ilmiah tentang masyarakat lain, meskipun sepanjang perjalanan sejarah politik, moral dan perhatian keagamaan jatuh pada segala lapisan masyarakat, Barat atau Islam, tentang orang asing (alien), adalah ganjil dan berbeda. Sebagai contoh, di Eropa, kaum orientalis secara tradisional berafiliasi secara langsung dengan petugas-petugas penjajah.[2]

Alih-alih menganggap bahwa objektifitas adalah menyatu dalam sebuah wacana ilmiah, kaum Orientalis Barat harus menyadari bahwa prakomitmen kepada sebuah tradisi politik atau agama, pada level kesadaran atau di bawah sadar (sub-consious), dapat menuntun kearah penilaian yang bias. Sebagaimana Marshall Hudgson menulis "Bias datang khususnya pada pertanyaan yang dimiliki dan kategori yang ia gunakan, yang memang, bias secara khusus sukar untuk dilacak karena sulitnya menengarai setiap istilah-istilah yang digunakan, yang kelihatannya bersikap netral secara tulus....[3]. Reaksi kaum muslimin terhadap citra yang digambarkan oleh kaum Orientalis mulai mendapatkan perhatian yang layak. Pada tahun 1979, seorang cendekiawan terkemuka Barat, Albert Hourani  berkata: "Suara-suara mereka yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara mengatakan kepada kita bahwa mereka tidak mengenali diri mereka sendiri seperti yang dicitrakan oleh kaum Orientalis. Citra ini terlampau banyak dan insistent untuk dijelaskan dalam istilah akademik atau kebanggaan bangsa."[4] Ini tentang Islam dan kaum muslimin berhadapan dengan kaum Orientalis.

Ketika kita fokuskan kajian kita tentang Syiah oleh kaum Orientalis, kata " kesalahpahaman " adalah asumsi yang tidak terlalu kuat; tetapi bahkan sebuah penyepelean. Tidak hanya Syiah yang disalahpahami, tetapi juga telah diabaikan begitu saja, direpresentasikan secara keliru dan dikaji bersandar pada literatur heresiographic  musuh-musuh Syiah.  Nampak seakan-akan Syiah tidak memiliki cendekiawan dan literatur sendiri. Meminjam istilah Marx, "mereka tidak dapat mewakilkan diri mereka sendiri, sehingga mereka perlu untuk diwakilkan" dan juga oleh musuh-musuhnya.!

Alasan atas munculnya keadaan ini terletak pada langkah-langkah yang ditempuh oleh cendekiawan Barat ketika memasuki wacana  kajian Islam. Hodgson, dalam pandangan gemilangnya tentang cendekiawan Barat, ia menulis "Pertama, mereka yang mengkaji Islam melalui Kesultanan Ottoman, yang banyak memainkan peranan utama dalam Eropa moderen. Mereka biasanya datang dengan perumpamaan pertama dari sudut pandang sejarah diplomatik Eropa. Cendekiawan ini memiliki kecenderungan untuk melihat secara keseluruhan Islam dari perspektif politik Istanbul, ibukota Kesultanan Ottoman. Kedua, mereka yang – biasanya orang Inggris – memasuki kajian-kajian Islam di India hingga menguasai bahasa Persia sebagaiamana masyarakat kebanyakan, atau paling tidak mereka diilhami oleh kepentingan India.

Bagi mereka, masa transisi penjajahan New Delhi cenderung menjadi puncak dari sejarah yang terislamkan. Ketiga, mereka yang semitis, sering tertarik untuk belajar bahasa Hebrew (Bahasa Agama Yahudi, -AK.), yang kemudian dipancing untuk belajar bahasa Arab. Bagi mereka, cenderung menjadikan Kairo sebagai pusat kajian mereka. Kairo adalah kota yang berbahasa Arab paling penting pada abad ke-19, meskipun beberapa orang dari mereka melirik Syiria atau Marokko sebagai pusat kajian mereka. Mereka secara umum adalah lebih philologian (ahli bahasa) ketimbang sejarawan, dan mereka belajar kebudayaan Islam melalui kaca mata penulis-penulis terkenal di Mesir atau Syiria yang merupakan orang Sunni. Jalan lain, - dari Spanyol dan beberapa orang Perancis yang membidik kaum muslimin abad pertengahan (medieaval) Spanyol, beberapa orang Rusia yang mengamati kaum muslimin yang tinggal di utara – yang secara umum tidak begitu penting. "[5]

Cukup jelas bahwa tidak satu pun dari langkah yang mereka ambil ini menuntun mereka untuk sampai kepada pusat kajian Syiah atau literaturnya.  Kebanyakan apa yang mereka kaji tentang Syiah didapatkan melalui sumber-sumber non-Syiah. Hodgson – yang patut mendapatkan acungan jempol dari kita karena mencermati poin ini –, ia  berkata : " seluruh jalan yang ditempuh memiliki satu warna saja, dan tidak menaruh perhatian ke arah Fertile Crescent (negara-negara seperti Irak, Libanon dan Suriah dan Iran), yang rata-rata penduduknya bermazhab Syiah, tempat ini jauh dari pengamatan dan penetrasi orang-orang Barat."[6]

Dan setelah perang dunia pertama, "Jalan orang-orang Kairo kepada kajian-kajian Islam  menjadi jalan Islami yang memiliki keunggulan, sementara jalan lainnya dianggap sebagai lebih bermuatan lokal. "[7]

Dengan demikian, bilamana seorang Orientalis mengkaji Syiah melalui pendekatan Ottoman, orang-orang Kairo atau India, secara alami bagi mereka untuk bersikap bias terhadap Islam Syiah.

"Doktrin sejarawan muslim (yang kebanyakan orang Sunni) selalu mencoba untuk menunjukkan bahwa seluruh mazhab yang ada selain dari apa yang mereka anut adalah sesat, dan jika mungkin, ia bukan seorang muslim sejati. Kerja mereka menjelaskan tentang banyaknya firqah yang siap menyesatkan para cendekiwan kiwari dengan anggapan bahwa mereka merujuk kepada sekte-sekte bid'ah".[8] Dan kita saksikan hingga kini, para cendekiawan Barat dengan gampang menjelaskan bahwa Sunni adalah Islam asli dan Syiah adalah mazhab bid'ah. Setelah memberikan kategori Syiah sebagai salah satu mazhab bid'ah dalam Islam, mereka menjadi "innocent neutral" bagi para cendekiawan Barat untuk absorb keraguan orang-orang Sunni terhadap literatur Syiah pada masa-masa awal. Bahkan konsep Taqiyyah (sikap mengingkari keimanan ketika nyawa seseorang terancam) telah diberitakan di luar proporsinya dan menganggap bahwa  setiap komentar dari ulama Syiah mengandung sebuah arti yang tersembunyi. Dan akibatnya, bilamana seorang Orientalis mengkaji tentang Syiah, pra-commitmentnya kepada tradisi Judeo-Kristen Barat yang disusun oleh pihak Sunni sebagai sikap biasnya terhadap Syiah.

Dan salah contoh terbaik dari susunan bias ini ditemukan dalam cara kaum Orientalis mempelajari peristiwa Ghadir Khum. Inilah yang kemudian menjadi tujuan utama dari tulisan ini.

 

 

Ghadir Khum: Dari Kelalaian kepada Pengakuan

Perisitiwa Ghadir Khum merupakan contoh teladan untuk melacak sikap bias ahli Sunnah yang dapat ditemukan dalam diri para Orientalis. Mereka yang well-versed dengan tulisan polemik ahli Sunnah mengetahui bahwa bilamana Syiah menyuguhkan sebuah hadis atau sebuah saksi sejarah untuk menopang pendapat mereka, seorang dari ahli Sunnah yang terlibat dalam polemik akan menjawab dengan cara seperti berikut :

Pertama, ia akan secara tegas menolak keberadaan hadis atau peristiwa sejarah tersebut.

Kedua, ketika ia berhadapan dengan bukti yang otentik dari kitab-kitab sumber mereka, ia akan meragukan keandalan perawi hadis atau perisitiwa tersebut.

Ketiga, ketia ia ditunjukkan bahwa perawi-perawi yang dimaksud itu memenuhi standard dapat dipercaya, ia akan memberikan penafsiran terhadap hadis atau peristiwa tersebut yang berseberangan dengan pandangan orang Syiah.

Ketiga poin di atas adalah jawaban klasik ahli Sunnah yang terlibat dalam perdebatan dengan orang Syiah. Sebuah kutipan dari terjemahan Muaqaddimah Ibnu Khaldun yang dilakukan oleh Rosenthal sebagai bukti atas ketiga poin di atas. (Ibnu Khaldun menukilnya dari salah satu bagian al-Mihal wan Nihal, sebuah karya heresiographic ash-Sharastani). Menurut Ibnu Khaldun, Syiah meyakini bahwa

"Ali adalah orang yang ditunjuk oleh Muhammad (untuk menjadi khalifah). Syiah meriwayat hadis ini untuk menopang keyakinannya....ulama-ulama ahli Sunnah dan perawi hadis mereka tidak mengenali hadis ini. [1] Kebanyakan dari hadis ini adalah takhayul, atau [2] Beberapa perawinya diragukan, atau [3] Tafsiran yang benar menurut mereka berbeda dengan apa yang ditafsirkan oleh Syiah."[9]

Yang menarik, peristiwa Ghadir Khum pun mengalami nasib yang sama di tangan kaum Orientalis. Dengan keterbatasan waktu dan sumber-sumber bagi kami, kami terkejut melihat bahwa sebagian besar pemerhati masalah Islam mengabaikan peristiwa Ghadir Khum ini, menunjuk, dengan segala kealpaannya, kaum Orientalis meyakini bahwa peristiwa ini adalah khurafat dan sebuah bid'ah yang dimunculkan oleh orang Syiah. Margoliouth dalam Muhammad and Rise of Islam (1905), Brockelman dalam History of the Islamic People (1939), Arnold dan Guilaumme dalam Islam (1955), Von Grunebaum dalam Classical Islam (1963), Arnold dalam The Caliphate (1965), dan Cambridge History of Islam (1970) telah melupakan peristiwa Ghadir Khum sama sekali.

Mengapa mereka dan para cendekiawan Barat melupakan peristiwa Ghadir Khum ini? Jawabnya mudah, karena para cendekiawan Barat bersandar pada kitab-kitab yang anti-Syiah, dan ini menyebabkan mereka secara alami melupakan peristiwa Ghadir Khum. L. Veccia Vaglieri, salah seorang kontributor tulisan pada edisi kedua Encylopedia of Islam (1953), menulis :

"Kebanyakan sumber-sumber yang kami miliki tentang kehidupan Nabi, kami dapatkan dari Ibnu Hisyam, at-Tabari, Ibnu Sa'ad dan sebagainya. Kitab-kitab sumber ini tidak menukil berhentinya Nabi Saw di Ghadir Khum, atau jika mereka menukilnya, mereka tidak berkata apa-apa (penulis takut kalau-kalau akan menciptakan rasa permusuhan Ahli Sunnah, yang sedang berkuasa, dengan menyediakan bahan-bahan untuk berpolemik dengan Syiah yang menggunakan kalimat-kalimat ini untuk mendukung argumen tentang hak Ali atas posisi khalifah setelah Rasulullah). Akibatnya, para penulis biograpi Muhammad, yang bekerja berdasarkan sumber-sumber ini, berbuat sama dengan mereka yang tidak membuat rujukan terhadap apa yang terjadi di Ghadir Khum."[10]

Kita ketahui beberapa cendekiawan Barat lainnya yang menukil hadis dan peristiwa Ghadir Khum ini tetapi menyatakan keraguannya akan keabsahannya – lihat poin kedua yang disebutkan di atas, jawaban klasik ahli Sunnah ketika mereka terlibat adu argumentasi dengan Syiah.

Cendekiawan Barat yang masuk dalam kategori ini, yang pertama adalah Ignaz Goldziher (seorang Orientalis terkemuka dari Jerman abad ke-19). Ia membahas hadis Ghadir Khum dalam karyanya Muhammedanische Studien (1889-1890) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Muslim Studies (1966-1971). Dalam buku terjemahan ini, pada bab yang diberi judul "Hadis dalam hubungannya dengan konflik-konflik antara mazhab-mazhab Islam." Ketika sampai ke pembahasan tentang Syiah, Goldzhier menulis :

"Dalil  yang kuat dari Syiah....adalah keyakinan mereka bahwa Nabi telah menunjuk dan melantik Ali sebagai khalifahnya sebelum wafat. Oleh karena itu, pengikut-pengikut Ali yang berhubungan dengan bid'ah dan merawikan hadis yang membuktikan pengangkatan Ali dengan petunjuk langsung dari Nabi. Hadis yang paling masyhur (perawinya tidak ditolak bahkan oleh ulama ortodox sekalipun meskipun mereka menafsirkannya dengan cara yang berbeda) adalah hadis Ghadir Khum, yang mewujudkan tujuan ini dan salah satu dalil yang paling kuat Syiah Ali."[11]

Seseorang boleh berharap kepada seorang cendekiawan terkenal untuk membuktikan bagaimana Syiah "yang ketat dalam memilih hadis" untuk menopang setiap dalilnya, namun Goldzhier tidak dapat membuktikan hal itu.  Setelah mengutip at-Tirmidzi dan an-Nasai pada catatan kaki sebagai rujukannya atas hadis Ghadir Khum, ia berkata , "An-Nasa'i – sudah dikenal – memiliki kecendrungan terhadap Ali, dan juga termasuk at-Tirmidzi dalam kumpulan hadisnya memiliki tendensi mengutamakan Ali, seperti dalam hadis thayr."[12] Hal ini dapat dijawab dengan menggunakan jawaban klasik oleh para ahli mujadalah Sunnah – meragukan perawi hadisnya atau berketerusan menuding Syiah melakukan perbuatan bid'ah.

Contoh lain dapat kita jumpai dalam edisi pertama Encylopedia (1911-1938) dengan judul singkat "Ghadir Khum" oleh F. Bhul, seorang Orientalis Denmark yang menulis biograpi Nabi. Bhul menulis, "Tempat yang menjadi tempat bersejarah lewat sebuah hadis yang keasliannya diterima oleh Syiah dan juga ditemukan di antara kalangan ahli Sunnah, sesungguhnya, Nabi dalam perjalanan kembali dari Hudaibiyyah (menurut riwayat lain dari Hajjatul Wida') ia berkata: "Barang siapa yang menjadikan Aku sebagai mawla-nya, maka Ali adalah mawlanya!"[13] Bhul yakin bahwa untuk menekankan bahwa hadis ini memiliki "keasliannya di kalangan Syiah!"

Contoh yang lebih mengejutkan lagi adalah ketidaktahuan para Orientalis tentang Syiah seperti terlihat dalam A Dictionary of Islam (1965) ditulis oleh Thomas Hughes. Di bawah judul Ghadir, "Pagelaran Syiah pada tanggal 18 Dzulhijjah, ketika tiga tokoh donat diisi dengan madu yang dilambangkan sebagai Abu Bakar, 'Umar dan Utsman ditikam dengan pisau-pisau, dan madu itu diisap sebagai simbol darah atas merampas khilafah. Pagelaran ini diperuntukkan untuk Ghadir, sebuah kolam, dan pagelaran itu adalah hari peringatan ketika Muhammad menunjuk Ali sebagai penggantinya di Ghadir Khum, sebuah telaga di antara kota Mekah dan Madinah."[14]

Seseorang yang datang dari sebuah keluarga Syiah yang dapat ditelusuri hingga Nabi Saw sendiri, setelah belajar di Iran selama 10 tahun dan tinggal di antara komunitas Syiah di Afrika dan Amerika Utara, mengklaim adanya donat dan madu dalam acara Ghadir sementara kami belum pernah melihat, mendengar atau membaca adanya donat dan madu dalam acara Ghadir! Kami lebih terkejut lagi melihat  Vagleiri, dalam edisi kedua dari Encyclopedia, telah memasukkan kabar burung ini dalam artikelnya yang memukau ihwal Ghadir Khum. Ia menambahkan di akhir artikelnya, "Hari raya ini juga memiliki peran penting di kalangan kaum Nusayris." Dan boleh jadi kabar tentang donat dan madu itu diamalkan oleh orang-orang Nusayris; tidak ada hubungannya dengan Syiah sama sekali. Tapi apakah para Orientalis itu mengetahui perbedaan antara Syiah dan Nusayris? Saya meragukan hal ini.

Contoh keempat dari para cendekiawan kontemporer yang mengikuti langkah-langkah orang-orang yang disebut di atas adalah Philip Hitti dalam History of Arabs (1964). Setelah menyebutkan bahwa dinasti Buwahid didirikan untuk "Memperingati hari raya itu ketika Nabi diduga melantik Ali sebagai penggantinya di Ghadir Khum," ia menjelaskan letak Ghadir Khum pada catatan kakinya sebagai " sebuah sumur di antara Mekah dan Madinah yang dalam hadis Syiah menegaskan bahwa Nabi mengumumkan "Barang siapa yang menjadikan Aku sebagai mawlanya, maka Ali juga adalah mawlanya."[15] Meskipun cendekia ini menyebutkan masalah Ghadir secara sambil lalu, ia menggolongkan hadis Ghadir sebagai "hadis Syiah."

Kepada para cendekiawan yang –sadar atau tidak–  telah tertawan bias Ahli Sunnah terhadap Syiah dan bersikeras ihwal keaslian Syiah dan penemuan hadis Ghadir, saya hanya ingin mengulang apa yang dikatakan oleh Vagleiri dalam Encylopedia of Islam ihwal Ghadir Khum:

Suatu hal yang pasti bahwa Muhammad berbicara di tempat ini dan menyampaikan kalimat yang terkenal, demi menjaga kelestarian peristiwa ini, baik dalam bentuk ringkasan ataupun dalam bentuk detail, tidak hanya al-Ya'qubi, yang pamornya dinilai memiliki rasa simpati terhadap Ali, tetapi juga dalam kumpulan hadis-hadis yang dinilai sebagai hadis resmi khususnya dalam Musnad Ibnu Hanbal; hadis-hadis semacam ini banyak bilangannya dan telah diuji kebenarannya dari berbagai isnads yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya."[16]

Vagleiri melanjutkan: "Beberapa dari hadis ini dikutip dalam bibliograhpynya, namun tidak dimasukkan hadis yang –meskipun melaporkan kalimatnya– namun menghilangkan kalimat Ghadir Khumnya atau yang disebutkan malah di Hudaibiyyah. Dokumentasi lengkap akan mencukupi ketika Concordance-nya Wensinck telah selesai dicetak. Untuk mendapatkan sebuah gagasan tentang bagaiamana hadis ini – sudah memadai untuk melirik kitab yang telah dikumpulkan oleh Ibnu Katsir dengan isnad yang lebih banyak bilangannya."

Sudah saatnya para sarjana barat berupaya untuk lebih akrab dengan literatur Syiah sejak masa dulu hingga kiwari. Para cendekiawan Syiah telah menghasilkan karya-karya besar yang menyoroti masalah Ghadir Khum. Saya hanya akan menyebut beberapa di antara karya-karya itu di sini :

Pertama adalah kitab 'Abaqâtul 'Anwâr dalam sebelas jilidume besar yang ditulis dalam bahasa Persia oleh Mir Hamid Husain al-Musawi (wafat 1306) dari India. '

Allamah Mir Hamid Husain telah mempersembahkan tiga jilidume besar (yang terdiri dari 1080 halaman) tentang isnad, tawatur dan makna hadis Ghadir Khum. Versi ringkasannya dari kitab ini ditulis dalam terjemahan bahasa Arabnya diberi judul Nafahatul Azhar fi Khulasati 'Abaqatil Anwar oleh Sayyid Ali Milani yang telah diterbitkan dalam 12 jilidume; dan empat jilidume (dengan ketikan dan cetakan modern) mengurai masalah hadis Ghadir Khum.

Kedua, adalah Kitab al-Ghadir dalam sebelas jilidume dalam bahasa Arab disusun oleh Abdul Husain Ahmad al-Amini (wafat 1970) di Iraq. 'Allamah Amini telah memberikan dengan rujukan penuh dari nama-nama 110 sahabat Nabi dan juga nama-nama 84 tabi'in (murid-murid para sahabat) yang menceritakan hadis al-Ghadir. Ia juga memberikan secara kronologis nama-nama sejarawan, ahli hadis, mufassir dan pujangga yang telah menukil hadit al-Ghadir tersebut sejak awal hingga abad keempat belas.

Almarhum Sayyid 'Abdul 'Aziz at-Thabathaba'i yang menyebutkan adanya kemungkinan tidak hanya satu hadis yang telah dinukil dari sedemikian banyak jumlah sahabat sebagaimana yang dapat kita lihat (120) dari hadis al-Ghadir tersbut. Namun, membandingkan jumlah itu dengan total jumlah yang hadir ketika peristiwa Ghadir Khum terjadi, ia mengatakan jumlah 120 penukil hadis tersebut hanyalah sepuluh persen dari jumlah sahabat yang hadir ketika itu. Dan ia memberikan judul pada tulisannya " Hadis Ghadir: Ruwatuhu Kathiruna lil-Ghayah ....Qaliluna lil-Ghaya (Perawinya sangat banyak.....beberapa)."[17]

 

 

 

Syaban dan Penafsiran Barunya

M.A. Syaban dalam Islamic History AD 600-750 adalah salah satu karya mutakhir yang dilakukan oleh sarjana Barat ihwal sejarah Islam. Dalam salah satu sub-judulnya, bertajuk "A New Interpretation" (Sebuah Penafsiran Baru), yang  di dalamnya penulis mengklaim tidak hanya menggunakan bahan-bahan yang baru ditemukan, tetapi juga menguji kembali dan menafsirkan kembali bahan-bahan yang telah digunakan untuk mengkaji Islam selama berabad-abad. Syaban adalah seorang dosen bahasa Arab di SOAS University of London, ia tidak dibekali pengetahuan yang memadai untuk memperhatikan peristiwa Ghadir Khum. Ia menulis: "Hadis terkenal dari mazhab Syiah bahwa ia (Nabi) menunjuk Ali sebagai penggantinya di Ghadir Khum seharusnya tidak perlu dianggap sesuatu yang serius."

Syaban memberikan dua alasan baru untuk tidak menganggap peristiwa Ghadir Khum sebagai sesuatu yang serius :

Persitiwa tersebut secara inheren memiliki kemungkinan menganggap tradisional Arab dengan segan mempercayakan kaum muda dan belia yang belum berpengalaman untuk memikul tanggung jawab yang besar. Lebih dari itu, sudah pasti sumber-sumber kita menunjukkan penduduk Madinah berlaku seakan-akan mereka mendengarkan penunjukan ini."[18]

Mari kita amati setiap alasan yang diberikan oleh tuan Syaban ini dengan kritis.

  1. Keseganan tradisi Arab untuk mempercayakan kepada kaum mudanya mengemban tanggung jawab yang besar.


Pertama-tama, apakah Nabi Saw tidak memperkenalkan banyak hal yang membuat bangsa Arab secara tradisi segan? Apakah penduduk Mekah menerima Islam dengan perasaan segan? Tidakkah masalah menikahi janda anak angkat adalah suatu hal yang tabu dalam masyarakat Arab? Tradisi segan ini, jangankan  sebagai sebuah argumen yang menolak pengangakatan Ali, sebaliknya dalil ini secara nyata telah menjadi dalil yang digunakan oleh Syiah. Mereka setuju bahwa bangsa Arab (khususnya suku Quraisy) merasa segan menerima Ali sebagai pengganti Nabi tidak hanya karena usianya yang masih belia tetapi juga lantaran dia telah membunuh banyak pemimpin mereka di medan peperangan. Menurut Syiah, Allah juga mengetahui perihal kesegananan ini dan alasan mengapa setelah memerintahkan Nabi Saw untuk mengumumkan "Ali sebagai pengganti ("Wahai Rasul! Sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu....."), Allah Swt meyakinkan Nabi-Nya dengan berfirman: "Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.." (Qs. al-Maaidah [5]:67). Nabi ditugaskan untuk menyampaikan pesan dari Allah Swt, tidak menjadi urusan apakah bangsa Arab suka atau tidak.

Terlebih, keengganan tradisi ini bukan merupakan kebiasaan yang tidak bisa dibalikkan dari bangsa Arab sebagaiamana Syaban menghendaki kita untuk meyakininya. Jafri dalam The Origin and Early Development of Shia Islam, mengatakan "Kitab-kitab sumber kami mampu menunjukkan bahwa – meskipun senate (Nadwa) penduduk Makkah sebelum Islam secara umum merupakan dewan para sesepuh suku saja, anak-anak para kepala suku yang memiliki keistimewaan tidak terikat dengan tingkat usia ini dan diperbolehkan untuk menjadi anggota dewan meskipun mereka masih muda. Pada waktu-waktu setelah itu bahkan dewan-dewan yang lebih bebas aturannya semakin banyak. Abu Jahal diperbolehkan menjadi anggota dewan meskipun ia masih berusia muda dan termasuk Hakim bin Hazm yang ketika itu ia masih berusia lima belas atau dua puluh empat tahun." Kemudian Jafri mengutip Ibnu 'Abd Rabbih, "Tidak ada raja monarkis yang menguasai penduduk Makkah di masa jahiliyah. Sehingga ketika meletus perang, mereka mengambil surat suara (ballot) di antara para kepala suku dan memilihnya menjadi "Raja", tanpa melihat apakah ia tergolong muda atau sudah tua. Sehingga pada hari Fijar, giliran Bani Hasyim dan sebagai hasilnya surat suara (ballot) al-Abbas, yang ketika itu masih belia, dipilih dan didudukkan di atas perisai."[19]

Ketiga, kita punya contoh dalam keputusan-keputusan Nabi sendiri selama akhir hayatnya ketika ia mempercayakan pimpinan pasukan kepada Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang belum lagi berusia 22 tahun."[20] Usamah dipilih di antara para tetua Muhajirin (berasal dari suku Quraisy) dan Ansar; dan memang banyak tokoh-tokoh tersebut mengeluhkan keputusan Nabi ini."[21] Jika Nabi Saw dapat memilih pemuda dan Usamah yang tidak berpengalaman di atas para tokoh-tokoh Muhajirin dan Ansar, lalu mengapa " inhrently probable " memikirkan bahwa Nabi telah menunjuk Ali sebagai penggantinya?

 

  1. Keengganan tradisi mempercayakan orang yang masih "ingusan" sebuah tanggung jawab yang besar.


Terlepas dari usia muda Ali, Syaban juga merujuk kepada keengganan bangsa Arab dalam mempercayakan " orang yang belum berpengalaman dengan sebuah tanggung jawab besar." Ini menandakan bahwa bangsa Arab memilih Abu Bakar karena ia telah berpengalaman dengan beberapa tanggung-jawab yang besar." Saya meragukan apakah Tuan Syaban akan dapat subtantiate implikasi atas klaim  tersebut dari sejarah Islam. Anda akan mendapatkan lebih banyak contoh Ali dipercayakan oleh Nabi dengan tanggung-jawab yang besar ketimbang Abu Bakar. Ali ditinggalkan di Makkah ketika Nabi hijrah di malam hari. Tugas Ali adalah untuk mengelabui pihak musuh dan mengembalikan amanah yang dititipkan oleh sebagian besar penduduk Makkah kepada Nabi. Ali telah diberi tanggung-jawab yang lebih besar selama masa-masa awal Islam dan senantiasa berhasil menunaikan tugasnya. Ketika ayat barâ'at  diturunkan, yakni ayat yang berisikan ultimatum  terhadap musyrikin Makkah. Tugas ini pertama kali dipercayakan kepada Abu Bakar untuk menyampaikannya kepada penduduk Makkah, tapi kemudian tugas besar ini diambil alih oleh Nabi dan diberikan kepada Ali. Ali dipercayakan untuk mengemban tugas menjaga kota Madinah dan penduduknya, sementara Nabi bertolak menuju Tabuk. Ali ditugaskan sebagai kepala rombongan dalam tugas ke Yaman. Ini adalah beberapa contoh yang sempat terlintas secara sekilas dibenak kami. Dengan demikian, sebagai perbandingan, Ali bin Abi Talib adalah orang yang telah diuji dan dipercaya mengemban beberapa tugas, lebih besar daripada Abu Bakar.

 

  1. Perilaku penduduk Madinah ihwal deklarasi Ghadir Khum


Pertama-tama, jika sebuah peristiwa dapat dibuktikan secara benar oleh standar kritis hadis (standar Ahli Sunnah tentunya), kemudian  reaksi orang-orang atas kredibilitas hadis tersebut menjadi tidak berguna.

Kedua, keengganan tradisi yang sama yang digunakan oleh Syaban untuk menolak deklarasi al-Ghadir dapat digunakan di sini terhadap sikap ragu-ragunya terhadap peristiwa Ghadir Khum. Keengganan tradisi ini, di samping faktor-faktor lain yang tidak dapat dibahas dalam buku ini.[22] dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku penduduk Madinah.

Ketiga, meskipun penduduk Madinah berdiam diri selama peristiwa yang menahan Ali dari kekhalifahan, masih banyak yang menyaksikan peristiwa ini. Dalam beberapa kesempatan, Imam Ali memohon kepada para sahabat Nabi untuk bersaksi atas deklarasi al-Ghadir ini. Di sini saya akan menyebutkan satu contoh perisitiwa yang terjadi di Kufah selama masa kekhalifaan Ali, sekitar dua puluh lima tahun setelah Nabi Saw wafat.

Imam Ali mendengar bahwa beberapa orang meragukan klaimnya atas keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya, oleh karena itu, ia datang pada sebuah perhelatan yang berlangsung di masjid dan memohon para saksi yang hadir dalam acara Ghadir Khum untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Nabi ihwal Nabi sebagai mawla mereka dan seluruh kaum mukmin. Beberapa orang sahabat berdiri dan membenarkan klaim Ali ini. Kami akan menyebutkan dua puluh empat nama sahabat yang membuat kesaksian atas klaim Imam Ali, meskipun sumber-sumber yang lain seperti Musnad Ahmad dan Majma' az-Zawaid milik Hafidh al-Haytami malah menyebutkan sebanyak tiga puluh orang. Perlu untuk diingat bahwa kejadian ini berlangsung 25 tahun setelah peristiwa GhadirKhum, dan selama masa ini, ratusan saksi telah wafat atau gugur di medang perang selama masa dua khalifah yang pertama. Sebagai tambahan atas kenyataan ini bahwa kejadian ini berlangsung di Kufah yang jauh dari pusat tempat sahabat bermukim, Madinah. Kejadian ini beralngsung di Kufah pada tahun 35 H yang riwayatnya sendiri dinukil oleh 4 orang sahabat dan 14 tabii'in dan telah tercatat dalam sebagian besar kitab-kitab sejarah dan hadis.[23]

Sebagai kesimpulannya, perilaku penduduk Madinah selepas wafatnya Rasulullah tidak secara langsung menghapus kisah al-Ghadir. Saya pikir bahwa ini akan memadai untuk Tuan Syaban menyadari bahwa tafsirannya tidaklah termasuk sebuah penafsiran baru, melainkan penyederhanaan, dalam pandangan penulis, mimbar pertama, dari jawaban klasik Ahli Sunnah – sebuah pengingkaran telanjang akan keberadaan sebuah peristiwa atau sebuah hadis yang menopang pandangan Syiah – yang telah digunakan oleh sebagian besar para sarjana Barat dalam mengkaji Islam.

 

 

Arti istilah " Mawla "

Dalil terakhir yang digunakan sebagai trik oleh Ahli Sunnah dalam jawaban mereka atas sebuah peristiwa atau sebuah hadis yang disodorkan oleh Syiah adalah memberikan sebuah penafsiran yang menjaga keyakinan mereka. Mereka memutar balik fakta dengan berkata bahwa kata "mawla" memiliki arti yang beragam: tuan, junjungan, hamba, pemelihara, keuntungan, pelindung, penjaga, mitra, sahabat, tetangga, tamu, anak, paman, kerabat, kemenakan, menantu, pemimpin, pengikut. Ahli Sunnah berkata bahwa arti "mawla" yang digunakan oleh Nabi Saw pada hari Ghadir Khum tidak bermakna "tuan atau junjungan", tetapi berarti " sahabat ".

Dalam masalah hadis al-Ghadir, inilah tingkat yang dicapai oleh para sarjana Barat pemerhati Islam (Orientalis). Ketika  menjelaskan konteks sabda Nabi Saw di Ghadir Khum, L. Veccia Vaglieri mengikuti penafsiran yang dibuat oleh Ahli Sunnah. Ia menulis :

Dalam masalah ini, Ibnu Katsir masih menunjukkan dirinya sebagai sejarawan utama: ia menghubungkan masalah Ghadir Khum dengan episode-episode yang terjadi selama expedisi ke Yaman yang dikomandani oleh Ali pada 10/631-2 H, dan kembali ke Mekkah tepat waktu untuk bertemu dengan Nabi Saw selama Hajjatul Wida' (Haji Perpisahan). Ali sangat ketat dalam membagikan harta rampasan perang dan sikapnya ini mengundang protes dari beberapa sahabat. Orang-orang meragukan sikap dan moralitasnya, ia diperingati dengan ketamakan dan dituduh menyalahgunakan wewenang. Lalu mungkin saja, Muhammad ingin menunjukkan di depan publik penghormatannya dan kecintaannya kepada Ali. Ibnu Katsir harus sampai kepada sebuah kesimpulan yang sama, karena ia tidak melupakan untuk menambahkan  perkataan-perkataan Nabi meminta untuk menghentikan cemoohan yang ditujukan terhadap Ali."[24]

Ketika sebuah kata memiliki arti yang beragam, sudah merupakan sebuah praktik umum yang berlaku dalam melihat konteks dari perkataan dan kejadian untuk dapat memahami maksud dari si pembicara. Ibnu Katsir dan penulis Sunni lainnya telah menghubungkan peristiwa Ghadir Khum  dengan ekspedisi ke Yaman.  Namun mengapa beranjak terlalu jauh untuk sekedar memahami arti kata "mawla", mengapa tidak melihat secara utuh dan menyeluruh sabda Nabi yang disampaikan di Ghadir Khum (an-sich)? Tidakkah sebuah praktik yang berlaku secara umum adalah mencermati teks (matn) dari sabda Nabi tersebut, bukannya melihat sebuah kejadian dari jauh, melintasi ruang dan waktu?

Ketika kita mencermati konteks langsung dari sabda yang disampaikan oleh Nabi di Ghadir Khum, kita mendapat beberap hal berikut ini :

  1. Pertanyaan bahwa Nabi bertanya sebelum menyampaikan deklarasi itu. Beliau bertanya, "Apakah aku lebih memiliki wewenang atas diri kalin melebihi wewenang kalian atas diri kalian sendiri?" Ketika orang-orang menjawab, " Iya, benar," lalu Nabi menyampaikan : "Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawla" Tentu saja kata "mawla", dalam teks (matn) hadis ini, memiliki makna yang sama dengan kata "awla : lebih memeliki wewenang."[25]

  2. Setelah penyampaian sabda ini, Nabi Saw melantunkan doa ini: "Ya Allah. Cintailah orang yang mencintai Ali, dan musuhilah orang yang memusuhinya; tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakan orang yang menghinanya." Doa ini sendiri menunjukkan bahwa Ali, pada hari itu, telah dipercayakan dengan sebuah posisi yang membuat beberapa orang memusuhinya dan ia memerlukan penolong untuk menunaikan tugasnya. Hal ini tidak lain kecuali kedudukan mawla dalam arti penguasa, tuan dan junjungan. Apakah penolong diperlukan untuk mewujudkan sebuah "persahabatan"?

  3. Sabda Nabi Saw di Ghadir menegaskan bahwa: "Dapat diduga bahwa aku akan dipanggil menghadap Allah Swt dan aku akan menjawab panggilan itu." Jelas bahwa Nabi Saw menyusun sebuah agenda kepemimpinan bagi umat setelah wafatnya.

  4. Para sahabat Nabi memberikan ucapan selamat kepada Ali dengan mengatakan "Amirul Mukminin (Pemimpin Orang Beriman) kepadanya ". Sehingga tidak ada ruang lagi untuk ragu berkenaan dengan arti kata "mawla ".

  5. Peristiwa, waktu dan tempat. Bayangkan Nabi menghentikan perjalanannya pada waktu siang hari dan juga meminta sekitar seratus ribu musafir untuk berhenti di bawah terik matahari yang membakar dan di tengah padang sahara, dan mereka diminta untuk duduk di atas padang pasir yang menusuk dengan panasnya, dan membuat mimbar buatan dari pelana-pelana unta, dan kemudian bayangkan beliau menyampaikan khutbah yang panjang dengan sebuah pengumuman bahwa "Barang siapa yang menganggap aku sebagai temannya, maka Ali juga adalah temannya!" Mengapa? Karena beberapa (tidak semua dari seratus ribu orang yang hadir di tempat itu) menaruh benci terhadap cara Ali membagikan harta rampasan di antara para sahabat pada ekspedisi ke Yaman! Tidakkah ini sebuah pemikiran yang konyol?


 

Jalan lain untuk menemukan makna kata yang digunakan oleh Nabi "mawla" untuk Ali adalah dengan melihat bagaimana orang-orang yang hadir di Ghadir Khum mengerti perkataan ini. Apakah mereka mengartikan kata "mawla" dalam arti "teman " atau dalam arti "tuan atau pemimpin"?

Hassan bin Tsabit, pujangga masyhur Nabi, menggubah sebuah syair berkenaan dengan peristiwa al-Ghadir pada hari itu. Ia bersenandung: "Lalu ia bersabda kepadanya: "Berdirilah, Wahai Ali, karena aku rela menjadikanmu sebagai Imam dan Penunjuk Jalan selepasku."

Dalam bait syairnya ini, Hassan bin Tsabit telah memahami istilah "mawla" sebagai arti dari "Imam dan Penunjuk Jalan" yang secara jelas membuktikan bahwa Nabi Saw berbicara tentang penggantinya, dan ia sama sekali tidak memperkenalkan Ali sebagai "temannya" melainkan sebagai seorang "pemimpin."

Bahkan kata-kata Umar Ibnu al-Khattab lebih menarik. Ia memberi ucapan selamat kepada Imam Ali dengan berkata "Selamat, Wahai putra Abu Talib, pagi ini anda telah menjadi mawla bagi setiap mukminin dan mukminat."[26]

Jika "mawla" bermakna "teman" lalu mengapa ada ucapan selamat? Apakah Ali adalah seorang musuh bagi seluruh kaum mukmin dan mukminat sebelum hari al-Ghadir?

Teks langsung (matan)nya ini membuatnya lebih jelas bahwa Nabi Saw berbicara tentang sebuah wewenang menyeluruh bahwa Ali bagi seluruh kaum muslimin sebanding dengan wewenang Nabi atas mereka. Mereka membuktikan bahwa makna istilah "mawla" dalam hadis al-Ghadir adalah tuan, pelindung, junjungan, atau pemimpin, bukan "teman".[27]

Akhirnya, bahkan jika kita menerima bahwa Nabi bersabda dengan kata: "Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya dalam kaitannya dengan peristiwa ekspedisi ke Yaman, bahkan kemudian, "mawla" tetap tidak akan bermakna "teman". Laporan-laporan dari ekspedisi, dalam kitab-kitab Ahli Sunnah, disebutkan bahwa Ali telah mencadangkan dirinya bagian yang terbaik dari harta rampasan yang telah didapatkan di bawah kendali kaum muslimin. Sikapnya ini telah menyebabkan kejengkelan di antara mereka yang berada dibawah perintahnya. Dalam pertemuan dengan Nabi Saw, salah seorang dari mereka mengeluhkan sikap tersebut, karena harta pampasan itu adalah harta kaum muslimin, Ali tidak memiliki hak untuk menyimpan harta tersebut untuk dirinya. Nabi mendengarkan keluhan itu dengan diam; lalu orang kedua datang menghadap beliau dengan keluhan yang sama. Nabi tetap tidak menjawab. Lalu orang ketiga datang kepada beliau juga dengan keluhan yang sama. Adalah ketika Nabi marah dan berkata: "Apa yang kalian inginkan dari Ali? Ia adalah wali setelahku."[28]

Apa yang dapat dibuktikan dari sabda ini? Dikatakan bahwa sebagaimana Nabi – sesuai dengan firman Allah Swt: "Nabi itu (hendaknya) lebih utama dari mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang memiliki hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah) dari pada orang-orang Mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (Qs. al-Ahzab [33]:6) – adalah awla (lebih berhak) atas kepemilikan harta dan hidup kaum mukminin, sama halnya dengan, Ali sebagai waliy, lebih memiliki hak atas harta dan kehidupan kaum mukminin. Nabi Saw secara terang mendudukkan Ali pada tingkatan wilâyah yang tertinggi setelah diri Nabi sendiri. Atas alasan ini penulis kitab al-Jami'us Shagir berkomentar: "Sesungguhnya perkataan ini adalah pujian tertinggi untuk Ali."

 

 

 

Kesimpulan

Dalam tinjauan singkat ini, kami telah menunjukkan bahwa peristiwa Ghadir Khum adalah sebuah fakta sejarah yang tidak dapat ditolak keberadaannya; dalam mengkaji Syiah, precommitment kepada tradisi Judeo-Nasrani yang dikumpulkan oleh kaum Orientalis dengan merujuk kepada bias Ahli Sunnah terhadap Syiah. Akibatnya, peristiwa Ghadir Khum diabaikan oleh kebanyakan sarjana Barat dan hal ini muncul dari kelalaian yang dikuasai oleh sikap ragu-ragu (skeptisisme) dan penafsiran baru (re-intepretasi).

Kami berharap dengan satu misal ini dapat meyakinkan setidaknya para sarjana Barat untuk menguji kembali metodelogi mereka dalam mengkaji Syiah; alih-alih menggunakan pendekatan menyeluruh melalaui karya-karya heresiographers seperti ash-Sharastani, Ibnu Hazm, al-Maqrizi dan al-Baghdadi yang menyuguhkan informasi bahwa Syiah sebagai sekte bid'ah dalam Islam, mereka seyogyanya lebih objektif dalam kerja-kerja antar Syiah dan juga Ahli Sunnah.

Orang-orang Syiah telah lelah, dan memang demikian adanya, digambarkan sebagai sebuah sekte bid'ah yang muncul karena keadaan politik pada masa-masa permulaan Islam. Mereka menuntut untuk digambarkan sesuai dengan keadaan asli mereka sendiri tidak digambarkan sebaliknya.

 

Salam atasmu,

Wahai Junjunganku, Amirul Mukminin

Wahai duta Tuhan di semesta buana ini

Khalifatullah di antara ciptaan-Nya

Dan Hujjat nyata bagi abdi-Nya

Salam atasmu, Wahai Dinillahi Qayyim dan Siratal Mustaqim

Salam atasmu, Wahai Kabar Agung yang atasnya diutus dan tentangnya kelak mereka akan ditanya

Aku bersaksi, Wahai Amirul Mukminin

Orang yang tidak meragukanmu

Tidak beriman kepada Rasul al-Amin

Dan mereka yang menyamakan kedudukanmu setara dengan yang lain

Telah menyimpang dari Din Qayyim yang atasnya Tuhan semesta Alam telah memilih untuk kita dan atasnya Dia telah menyempurnakannya melalui Wilâyahmu pada hari Raya Ghadir

(Dikutip dari Ziyarat Hari al-Ghadir)

[1] . Bagian ini merupakan versi revisi dari sebuah tulisan yang pertama kali dipublikasikan secara bersamaan dalam edisi majalah dwi bulanan The Light (June 1990) dan dalam Ghadir (Toronto: ISIJ & NASIMCO, July 1990) dengan judul "Orientalist & the Event of Ghadir Khumm."

[2] . Said, E.W., Covering Islam (New York: Pantheon Books, 1981) hal. xvii.

[3] . Hodgson, M.G.S., The Venture of Islam, jilid. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1974) hal. 27.

[4]. Hourani, A., "Islamic History, Middle Eastern History, Modern History," in Kerr, M. H. (ed) Islamic Studies: A Tradition and Its Problems (California: Undena Publications, 1979) hal. 10.

[5]. Hodgson, op. cit., hal. 39-40.

[6] . Ibid.

[7] . Ibid.

[8]. Hodgson, op. cit., hal. 66-67.

[9] .  Ibn Khaldun, The Muqaddimah, terjemahan, Franz Rosenthal, jilid. 1 (New York: Pantheon Books, 1958) hal. 403. Dalam edisi aslinya, lihat jilid. 1 (Beirut: Maktabul Madrasah, 1961) hal. 348..

[10]. El², hal. 993 dengan judul "Ghadir Khum."

[11]. Goldziher, Muslim Studies, terjemahan, Barber dan Stern, jilid. 2 (Chicago: Aldine Inc., hal. 1971) hal-hal. 112-113.

[12]. Ibid.,

[13] . El¹, hal. 134-135 dengan judul "Ghadir Khum."

[14] . Hughes, Thomas P., A Dictionary of Islam (New Jersey: Reference Book Publishers, 1965) hal. 138.

[15] . Hitti, P.K., History of the Arabs (London: Macmillan & Co., 1964) hal. 471.

[16] . El², hal. 993 dengan judul "Ghadir Khum."

[17]. At-Thathaba'i, 'Abdul 'Aziz, al-Ghadir fit Turatsil Islami, (Qum: Nasyr al-Hadi, 1415) hal. 7-8

[18] . Syaban, Islamic History AD 600-750 (Cambridge: University of Press, 1971) hal. 16.

[19] . Jafri, S.H.M., The Origin and Early Developments of Shi'a Islam, hal. 22.

[20] . Haikal, M.H., Hayât Muhammad, (2nd edition) hal. 478; lihat juga terjemahannya, The Life of Muhammad, terjemahan al-Faruqi (American Trust Publication, 1976) hal. 492.

[21] . Lihat, Ibn Saad dalam at-Tabaqât dan karya-karya besar dalam Sirah.

[22] . Untuk lebih detilnya, lihat Rizvi, S.S.A., Imamate, hal. 120-121.

[23] . Untuk referensi lebih lengkap, lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid. 1 (Tehran: Muassasatul Muwahhidi, 1976) hal. 166-168.

[24] . El², hal. 993-994 dengan judul "Ghadir Khum."

[25] . Al-Amini membeberkan nama-nama muhaddits (ahli hadis) Sunni yang telah menukil pertanyaan di atas, termasuk di antara mereka adalah Ahmad bin Hanbal, Ibn Majah, an-Nasa'i, dan at-Tirmidzi. Lihat al-Ghadir, jilid 1, hal. 370-371

[26] . Lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid 1, hal-hal. 270-283 untuk referensi dari sumber-sumber Sunni.

[27]. Konteks-konteks ini adalah bersumber dari kitab al-Ghadir karya Allamah Amini yang diringkas oleh Rizvi dalam Imamate: The Vicegerency of the Prophet.  

[28]. An-Nasai, Al-Khasâis, Ali bin Abi Thalib, hal.  92-93; at-Tirmidzi, Shahih,   jilid 5, hal. 632 (hadis #3712), dan Jamiush Shagir.
loading...
loading...
loading...
Name

#ahlulbait #shalawat #doa #AlQuds #buku putih mazhab syiah #DR Ahmad Thayyib #Dzikir #ebooks #Fatimah #FikihSyiah #ImamAli #ImamHasanAlMujtaba #ImamKhomeini #isis #kitabsyiah #syiahmenjawab #alkafi #Mufti Ahlusunnah Mesir #Mufti Al-Azhar #Persatuan Umat Islam #Syiah Bagian dari ISLAM #syiahmenjawab #tabayyun #alibinabithalib #Umur #Walipitu #Walisongo #Wawancara Eksklusif 10 kegagalan memahami syiah 17 Agustus 2017 4 Pesan Nabi SAW kepada 'Ali as ABI ABI berkunjung Kemenko Polhukam abu bakar abu dzar abu dzar al-ghifary abu jaham Abu Turab Adab Berkomunikasi Dalam Quran agama Agama amp; Dunia Agama dan AKhlak Agama dan Dunia Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern Agama Memperkuat Diri Hadapi Kesulitan Agama Sadis agama untuk manusia Agresi Saudi agustinus ahkamul quran Ahli Ibadah Yang Riya' ahlul bait ahlul bayt ahlul bayt as ahlulbait Ahlulbait as adalah Ahlu adz Dzikr Ahlulbait as Bagaikan Pintu Pengampunan Ahlulbait Nabi as adalah Tali Allah Ahlussunnah ahlusunah Ahmad Taufik Jufry air Air Mata Kerinduan Uwais Al Qarani Kepada Rasul SAW Ajaran Ajaran Nabi Muhammad Saw Untuk Kehidupan ajwibah akal fitrah AKAR FITNAH akhlak Akhlak Imam Sajjad Pasca Karbala Akhlak Mulia Akibat Lalai Shalat Akidah Akidah Syiah Aktivis Al Mahdi al quran Al Quran al quran syiah Al-Fatihah al-ghaib Al-Ghazali Al-Kalbi Al-Qur'anul Karim Al-Quran Alam Ali Ali Akbar Ali ibn Abi Thalib ali khamenei ali shariati ali syariati aliran sesat Amalan Malam Nisfu Sya’ban amaliyah Amr bin Yasir an-Najasy an-Najazyi Anda Bertanya Anda bertanya SYiah menjawab Annemarie Schimmel Anti Stres anti terorisme Antologi Islam Apa Apa Definisi Roti? Apa yang Kita Pikirkan Api Takfiriah Yang Menjilat Diri Sendiri Arab Saudi Arbain Husaini Argumentasi Rasional Syiah Tentang Imamah Aristoteles asal-usul syi'ah Asas Politik Kanjeng Nabi Muhammad SAW Asuransikan dirimu dengan doa ini Asyura asyuro At-Taqrib Audio awjibah Ayat-ayat Keagungan Nabi Ayatollah Bahjat qs Ayatullah Nuri Hamadani Ayatullah Shafi Ghulpaghani Ayatulloh Az-Zahra bab Bagaimanakah Bahagia? bahagia Bahasa Agama BANGGALAH MENJADI BANGSA INDONESIA Bangsa Iran Bangsa Persia Bantahan Keras Bahwa Syiah Pengikut Ibn Saba' Bedah Buku Putih Mazhab Syiah Berbahagia karena berbagi jalanNya berbuat baik Berdzikir dalam Perspektif Imam Khomeini Berita Berkah Sang belahan jiwa Nabi SAW amp; Doa Ziarah padanya Bersama Tuhan Di Bulan Suci bersuci bertindak Berwisata dengan Kemuliaan Fatimah Azzahra Betulkah Syi'ah Mengkafirkan Sunni? bijak Biografi Biografi Allamah Thabathaba'i Biografi Imam Ali Biografi Ulama Syiah Bisik-bisik Obama Tentang Islam di Indonesia Budaya Budaya & Gaya Hidup Budaya amp; Gaya Hidup Buku Putih Mazhab Syiah: Fakta Eksistensi Syiah Bulan bung karno Bung Karno pun Napak Tilas ke Imam Husain di Karbala Bung Karno pun Ziarah Imam Husain di Karbala Buya Syafi'i Ma'arif Cahaya Cahaya Nabi Muhammad Cahaya Nabi Muhammad saw Cahaya Tuhan cak nun CARA MENDIDIK ANAK ala AMIRUL MUKMININ ALI BIN ABI THALIB (S.A) cerita cerita sufi Chat Cinta Cinta Anugerah Terindah Cinta kepada Husein Cinta kepada Nabi SAW Cinta Kepada Keluarga Nabi Muhammad SAW Cinta Menyatu dalam taat kepadaNya Cinta Rasulullah SAW Kepada Empat Sahabat Radhiyallahu'anhum Copernicus corak filsafat Syiah Dan Sinterklas Turut Melakukan Aksi Intifadah Bela Palestina Daras Akidah Daras Akidah MIsbah Yazdi Definisi Roti Deklarasi Bersama Pulangkan Pengungsi Sampang Delapan jalan menghapus dosa Demonstrasi di Yaman Dialog Newton Diam diskriminasi Do’a Doa Adilah Doa Adilah adalah salah satu doa yang dianjurkan dan diajarkan untuk mencegah kita kehilangan iman saat ajal menjemput nanti. Doa Ahad (Janji Setia) Doa Hari Jum’at Doa Jausyan Kabir Doa Keamanan Doa Kumayl/Hazrat Haidr as doa perpisahan ramdhan doa ramdhan Doa Tawassul Nabi dan Ahlulbaitnya yang suci Doktrin Dosa dua belas imam dunia islam Dunia Islam dzulhijah Editorial Empat Hal Yang Mematikan Hati Enam Hal Yang Dapat Menghapus Amal Kebaikan enggan Epistemologi Agama Eskalasi Intoleransi Takfiri di Yogyakarta etika Ramadhan Face Off "Palestine" Fajar 5 Simbol Persatuan Sunni-Syiah FAKTA FATIMAH Faktor Faktor Pemicu Perpecahan falasi Falsafah Kebangkitan Imam Husain Fana Fana dalam dunia Irfan fathimah Fathimah as tentang Keagungan Al-Qur'an fathul bari Fatimah 'alaihassalam FATIMAH AZ- ZAHRA: IBU dari AYAHNYA dan PENGHULU SELURUH WANITA fatwa Fatwa Fatwa Sesat yang mensesatkan fatwa imam Khamenei Fatwa Marja' Fatwa Sayid Khamenei Larangan Mencaci Sahabat dan Simbol-Simbol Ahlussunnah Fenomena Alam fikih fikih ibadah Filosofi Filsafat Filsafat Iluminasionis Filsafat Islam filsafat Kant Filsafat Nahwu fiqh Fiqh Ibadah fiqih Syiah Fiqih syiah najis Firaun Fisafat Fitnah Syiah fuqoha gagal memahami syiah gaib Galileo Gallery Gerakan Politik-Sosial Imam Khomeini Gereja Ghadir Ghadir Khum golden ways Grand Syaikh Al Azhar : Fatwa Larangan Pembunuhan Muslim Syiah Meredam Konflik Sektarian gubernur gubernur mesir Guru hadis hadis ahlulbait hadis syiah Hadist Hadist Rosululloh Hadist Tsaqalain hadits Hadits hadits 12 khalifah. khulafa ar Rosyidin hadits ahlulbait hadits nabi haji Haji Langganan Hajj (The Pilgrimage): Menghampiri Allah Swt hak hak asasi manusia HAK IBU DAN HARI IBU hak sahabat hak teman HAKEKAT NISFU SYA'BAN Hakekat Puasa Menurut Perspektif Al-Quran Hakikat Dzikir Hakikat Syafaat dan Tawassul Menurut Al-Quran hakim Hakim Cium Tangan Terdakwa Halilintar HAM hamba Harapan Hari Internasional al-Quds di Semarang diikuti oleh ribuan orang yang cinta kemerdekaan dan perdamaian hari kemenangan Hari Raya Orang Berpuasa Harmoni Sunnah-Syiah di Irak Harmoni Titik-Temu Sunni/NU dan Syiah harmonis hasan al banna HASAN AL BANNA DAN PROGRAM PENDEKATAN SUNNI-SYIAH hasan al bashri Hasan al-Mujtaba Hati hawa nafsu hawa nafsu dalam al quran hadits hawa nafsu menurut syiah Hedonis Penyakit Kehidupan Hermeneutika hikmah hikmah imam Ali as Himah Hisbulloh Houthi hubungan hubungan antara agama dan akhlak hudud hukum hukum Islam hukum Qiyas hukum Tuhan Hume humor husain husain fadhlullah HUT RI ibadah wanita ibnu hajar ibu Ibu Kaum Mukminin dan Keutamaan Wanita Muslim Pertama Ideologi Syi'ah Idul Qurban dan Penyembelihan ihtiyath ijtihad ikhtilaf ilahi Ilmu Ilmu Agama Ilmu Firoq Image imam imam 12 imam ali Imam Ali Adalah Rahmat Imam Ali Al Ridho as Imam Ali ar-Ridha imam ali bin abi thalib Imam Ali dan Dua Orang Yahudi Imam ALi dan Filsafat Nahwu imam ali khamenei Imam Ali Zainal Abidin Imam Ali Zainal Abidin as Imam As-Shadiq Imam Asajad Imam Hasan Imam Hasan al mujtaba Imam Hasan dalam literatur Syiah Imam Hasan menurut Syiah Imam Husain IMAM HUSAIN PRIBADI DIDIKAN RASULULLAH SAW. Imam Husain Tragedi Karbala Imam Husein imam ja'far shadiq Imam Ja'far Shadiq dalam Mengurai Penyimpangan Imam Jafar Imam Jafar Asshadiq as imam Jafar shadiq as Imam Jafar Sodiq Imam Jawad imam khomeini Imam Khomeini Membangkitkan Kesadaran Umat Imam Khumaini Imam Mahdi Imam maksumin Imam Musa Al Kazhim as Imam Musa Kazhim as Imam Musa Kazim Imam Sajjad Imam Syiah imam syiah. imam ahlulbayt as IMAM ZAMAN as imamah Imamah amp; Wilayah imamah dan khilafah Imamah Imam Ali Imamah menurut syiah Iman iman dan amal. korelasi iman dan amal individu Indonesia indonesia merdeka Info Syi’ah Info Syiah Instropeksi Diri Internasional Iran Iran-kah Bangsa Yang Dijanjikan Dalam Surat Muhammad? Iranphobia dan Syiahphobia Irfan Irfan amp; Tasawuf Irfan dan Akhlak Irfan dan Filsafat Irfan Praktis Irfan Teoritis ISIS Berencana Teror Iran ISIS Perusak Citra Islam Muhammadi (Saw) iskandariah Islam islam damai Islam dan Keindonesiaan islam nusantara Islamisme Islamphobia israel istibra ISTIKHARAH DENGAN TASBIH Jabatan itu tidak lebih berarti dari sepatuku Jabir ibn Abdullah Al-Anshari Jadilah Orang Baik jagalah persatuan umat Jalaludin Rahmat Jalaludin Rumi Jangan Ada Ruang di Indonesia untuk Terorisme Jangan berpangku tangan Jawa Jejak-jejak Imam Ali pada Bendera Macan Ali Cirebon Jokowi Jokowi: Gus Dur tak rela konstitusi diremehkan judul Jurnalis Juru Selamat Kalau Di Jawa Ada Wali Songo Di Bali Punya Wali Pitu Kamu adalah Kebiasaanmu Kanjeng Nabi SAW Karbala KATA DAN UJARAN KATA-KATA YANG MEMBUAT ABU THALIB MANTAP keadilan kebahagiaan Kebangkitan Imam Husain keberkahan bulan ramadhan Kebhinekaaan Kedatangan Imam Mahdi as Kedudukan Bersikap Jujur Dalam Hidup kedudukan perempuan Kefakiran dan Kebakhilan kegagalan memahami syiah Keharmonisan Sunni-Syiah di Masjid Yardyam Rusia Kehendak Bebas Dan Takdir kehidupan Kehidupan Ali ibn Abi Thalib Keilmuan Islam Kejahilan yang paling besar kelahiran keledai Keluarga Nabi KELUH KESAH KAWAN (1) KELUH KESAH KAWAN (2) Kemaksuman Nabi dalam Perspektif Al-Quran Kemaksuman Nabi Muhammad SAW Kemaksuman Para Nabi Menurut Syiah Kembali Kepada Keaslian Jatidiri Manusia Kemenag Gelar Dialog Lintas Guru Agama Untuk Tingkatkan Toleransi Kemenangan Sudah Dekat kemiskinan Kenabian Kenapa Selalu Berpecah-belah? Kepeloporan Syiah di bidang Ilmu Kalam Kepemimpinan Dan Imam Maksum Kepler kerajaan aceh kerjasama Kesatria Karbala Ali akbar kesetaraan Kesucian ketenagakerjaan Keteraturan Keteraturan Fenomena Semesta Ketika Anak Melawan Kita Ketika Binatang-Binatang Berhaji Ketuhanan keutamaan bulan Keutamaan Hari dan Bulan Sya'ban khalifah khilafah khomeini Khotbah 1 Khurasan khutbah Imam Ali as Kilas Balik Murtadha Muthahhari kisah kisah bijak kisah hikmah Kisah Romantis Keluarga Kenabian Kisah sakitnya Rasul sebelum Wafat Kisah sebuah cincin Mulia Kita atau Imam Zaman yang Ghaib? Kita Beragam kitab kitab syiah Koalisi Saudi-Zionis Gagal Tenggelamkan Isu Quds dan Palestina Konsep Ketuhanan Konsep Ketuhanan Dalam Filsafat Konsultan Nikah Saudi bolehkan suami pukuli istri secara Islami Korban Crane kristen Kritik Israel Kumail kurr Lagu Kebangsaan Lahirnya Sang Putera Ka'bah lailatul qadar menurut syiah lailatul qadr Larangan Menolak Peminta Lau Kana Bainana Al-Habib Law Kana Bainana Lentera Ilahi lidah Link logika Lord of The Ring luqman luqman hakim Ma'arif Ma’rifah madzhab Ja'fari makna haji Makna Kesyahidan Makna Syahadah Makrifatullah malaki tabrizi malam di malam lailatul qadar malik asytar mantan Walikota London diskors manusia manusia dan alam semesta Masa Dhuhur Masa IMAM ZAMAN as masalah masehi masuknya islam masyarakat Matahari mazhab Melatih Diri Melatih Diri untuk Hidup Melihat Allah Melihat Tuhan Memohon Taufik Mempelajari Ilmu Agama Menahan Tangisan Si Miskin Menakar Kualitas Sang Mufti Ketika Murka Mencegah Predator Anak Menembus ruang dan waktu bersama Jibril Mengapa Asyura Diperingati Tiap tahun Mengapa Menangis Atas al Husain mengenal hawa nafsu Mengenang dan Berbahagia Menggalang Persatuan Seperti yang diajarkan Kanjeng Nabi SAW Menghadapi Kemarahan Dengan Santun Menghampiri Allah Swt menjadi manusia haji Menjadi Musafir Yang berhasil Menjaga Amalan MENJAGA HATI amp; LIDAH menjawab fitnah menjawab tuduhan menolak buku panduan MUI Menolak syiah Menyangkal Filsafat Hampa Merdeka mesiah Milad Fatimah Az Zahra as Mimpi yang Terbeli Motivasi Qurani Mozaik muamalah mudhaf Muhammad Muhammad saw Muhasabah diri Muhsin Labib MUI MUI dan Syiah MUI dan Tugas Mempersatukan Umat mujtahid mukallid Mukjizat Nabi Mukmin Adalah Sekufu Bagi Mukmin Munajat/Doa Murid murtadha muthahhari muslimah muthahhari muthlaq Mutiara Ahlulbait Mutiara Hikmah mutiara imam Ali as MY MOTHER IS THE MIRROR OF MY LIFE MY MOTHER IS THE MIRROR OF MY LIFE (2) Nabi Nabi Muhammad nahjul balaghah najasah Najh al-Balaghah nakhai nama Allah Nasab Imam Ali Nasehat Imam Khomeini (qs) untuk Seorang Muslim nashiruddin Nasional Nasionalisme Nasruddin Natal Dan Teologi Cinta Neo Teologi Nikah Mut`ah Nilai dan Kadar Manusia NKRI Harga Mati nominalisme NU Meminta Jokowi Bubarkan Ormas Keagamaan Anti Pancasila Nur Muhamad Nur Muhammad Nusantara Opini Orang tua dan orang hitam tidak akan masuk surga Orang yang berilmu dengan orang yang beriman sangat berbeda Orang Yang Sombong ORATOR ZALIM Orde Baru ormas ahlulbait indonesia Ormas Anti Pancasila Harus dibubarkan Pahala Memaafkan pajak pancasila Pancasila Jaya Pandangan Imam Ali as Tentang Kebodohan Pandangan Ulama dan Sejarahwan Tentang Imam Ali Zainal Abidin as Panjang Umur Para Sahabat PBNU pejabat Pelajaran Dari Yang Telah Berlalu pembalasan Pembantaian Imam Husain PEMBENCI DAN KEBENCIAN pembicara Pembuktian Wajibul Wujud Pemicu pemikiran Pemikiran dan Kepribadian Imam Khomeini Bagi Dunia pemimpin islam Pemimpin Non Muslim penalaran Pencipta Pencipta Lagu pendekatan sunni syiah pendengar Pengakuan Mahasiswa Asal Myanmar Tentang Syiah Pengangkatan Yazid Pengaruh Buruk Malas dan Solusinya pengertian pengetahuan Pengetahuan memberikan manusia wawasan dan kesadaran Pengetahuan menurut Imam Ali as Pengetahuan Umum Penghalang Kehadiran Hati Ketika Shalat Penghancuran Situs Kuno: dari Suriah hingga Yogya Penghormatan Imam Ali as Kepada Para Tamu Pengorbanan Imam Ali bin Abi Thalib as untuk Tamu penguasa islam Pengungsi Sampang Penolakan Ulama Islam Terhadap Gerakan Takfiri Pentingnya Sejarah PERANG MELAWAN KEBODOHAN Perbedaan Tidak Harus Diseragamkan perempuan perempuan muslimah Peringatan Wiladah Al-Mahdi Afs Peristiwa Karbala Permainan Politik di Balik Dukungan Wahabi Salafi Takfiri pernikahan Pernyataan Perpecahan persahabatan sunni-syiah Persatuan persatuan islam Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Ja'far as Persatuan Syiah-Sunni persaudaraan sunni-syiah persaudaraan umat Persefektif Al-Quran Perspektif Perspektif Imam Jafar Shadiq as tentang Sumber Pengetahuan Perspektif Jendral Gatot tentang Persatuan dan Pertahanan Indonesia Perspektif/Opini Pertolongan Allah Pesan Pesan Asyuro Sayidah Zainab Pesan Asyuro Sayidah Zainab as Pesan Asyuro Sayidah Zainab Singa Bani Hasyim Pesan dan Nasehat untuk MUI Pesan Haji Ayatollah Sayyid Ali Khamenei 2016 Ini Hadirkan Tetesan Airmata Pesan Haji Oleh Ayatollah Sayyid Ali Khamenei 2016 Ini Hadirkan Tetesan Airmata Pesan Haji Rahbar 2017 pesan imam ali Pesan Majma Jahani Ahlul Bait PESAN NATAL AYATULLAH KHAMENEI pesan persahabatan Pesan Rahbar Pesan Syahid Mohsen Phobia Terhadap Syiah? Itulah Desain Kepentingan Barat Pilkada Piramida Planet Planet Matahari plato Pokoknya kambing walaupun bisa terbang praktis Presiden Presiden Perintahkan Aparat Cegah Aksi Teror Saat Natal pria dan wanita Primordialisme Prinsip Kemahdian Dalam Al-Qur'an Profil Ahlulbait proklamasi Puasa puasa batin puasa lahir puasa ramadhan puisi Puteri kesayangan Nabi Putin Qiyas menurut Syiah Qosim sulaemani Quds Day Dalam Pandangan Imam Khomeini ra Quds Day in Semarang Quote Qur'an quraish Shihab RACHEL CORRIE CUKUPLAH MENGENALIKU Rahasia Bulan Rahasia Halilintar Rahasia Matahari rahbar Raja Saudi ramadhan ramadhan dalam hadits rasulullah dan ahlulbait Rasulullah SAW Simbol Persatuan realitas Rektor IAIN: Banyak Titik Temu Sunni (NU) dan Syiah Rencana Allah Pasti Indah Rene Descartes renungan renungan akhir ramadhan Renungan Tengah Malam retorika Revolusi revolusi iran Revolusi Mental amp; Aku (Bukan) Siapa risalah Rizqi Romawi Rosululloh Ruh Saat Tidur Rukyatullah rumah tangga RUMAH TANGGA YANG SEHAT PONDASI KOKOH SEBUAH NEGARA Rusia Komitmen Dukungan Kepada Negara-Negara Islam sahabat Sahabat Nabi Sahabat Nabi SAW sains Salah Memahami Hukum salman Sambut Tahun Baru Rahbar Menyampaikan Pesan Khusus untuk Rakyat Iran Sampah Sampah Hati Samudera Hindia Masa Depan Ekonomi Dunia Sastra Sastra Barat Sastra Islam satu tuhan Saudi Saydah Fatimah Sayid Hasan Alaydrus Sayidah Fatimah sayyid Ali Khamenei Sayyid Hasan Khomeini Sayyidina Hasan Sebaik-baik manusia Sedekah seimbang sejarah sejarah islam Sejarah Perkembangan Syiah di Indonesia sejarah syi'ah Seluruh manusia tertidur pulas. Ketika ajal tiba mereka baru sadar Semua Tentang Ali Karamallahu Wajhah seni Senjata Musuh Masa Kini Seorang penjual keripik singkong Seri Tanya Jawab Irfan Serial Karbala Seruan Kanjeng Nabi SAW sesat Setan setan tidak disiksa api neraka Setelah Kunjungan Raja Saudi: Melawan Ekstremisme? shahifah Mahdiyyah shalat shalat sufi Siah Nusantara Siapa "Habib" itu? Siapa dari kita yang paling banyak memakan kurma? siapakah ahlulbait nabi Sifat Af'aliyah SIfat Allah Sifat Dzatiyah Simbol Keagungan Spiritualitas Simbol Kesabaran Ahli Bait as Simbol Persatuan Dunia Islam Sirah Sirah Ahlulbait as skeptisisme skolastik socrates soekarno Sofis sosial studi skolastik Sumber-sumber Pendanaan ISIS Sunan Kali Jaga sunni sunni syiah Sunni-Syiah di Nusantara Sup Panas surat surat imam ali surat malik asytar Surat Muhammad syafaat Ahlulbait as Syafaat dan Optimisme Syafaat Nabi syahadah Syahid Murtadha Muthahhari Syaikh Al Azhar syarat. syarif radhi Syed Ahmad Baragbah tentang Ahlulbait dalam Hadits Nabi Syed Ahmad Baragbah tentang Syiah Dan Salah Faham Terhadapnya Syed Ahmad Baragbah tentang Taqiyah Menurut Islam Syiah syiah aceh Syiah adalah madzhab Islam Syiah adalah muslim syiah ali syiah antara iran dan indonesia Syiah dalam Lisan Rasulullah Saw Syiah Houthi syiah imamiyah Syiah Indonesia Syiah Islam Syiah Isna Asyariyyah Syiah Menjawab Syiah menjawab Tasawuf Syiah menurut Syiah syiah nusantara syiah saudi Syiah Sesat Syiah takwa Syiah Tidak Sesat Syiahisasi syiahnusantara Syiria syukur ta'abbudi Tabayun tabayun Syiah TABIAT MENGKAFIRKAN tabiin Tafaqquh Fiddin Tafsir Tafsir al-Quran tafsir birrul walidaen Tafsir Cemerlang tentang Islam Nusantara Tafsir Hikmah Tafsir Maudhu'i Tafsir Mudah Tafsir Surah al-Falaq Tafsir Surat AN-Nas tafsir syiah Tafsir Tematik Tahajud Menurut Ajaran Ahlul Bait As Takdir dan Logika Takfiri Takfirisme takhalli taklid TAKWA takwa bulan ramadhan takwini tamar Tangisan Pemimpin Iran Atas Tragedi Mina Tanya Jawab Tanya Jawab Irfan Tanya Jawab Isyu Fitnah terhadap Syiah Dengan Ahlinya Tanya Jawab Tasawuf Taqi Misbah Yazdi taqiyah Taqiyah Identik dengan Kemunafikan? taqiyyah Tasawuf Tasawuf dan Irfan Tasawuf Praktis Tasawuf Teoritis Tasbih Semesta Tashawuf Tasyri Tauhid Tauhid Dzat TAUHID PADA WUJUD MANUSIA Tauhid Semesta Tauhid Sifat Tawadhuk Kepada Manusia tawassul Tawassul 14 Manusia Suci tembang jawa Tentang Kejujuran Tentang Orang Arif Tentang Usia teologi teologi syiah teoritis terjadi Terjemah Al-Qur'an TERLAMPAU BERSUKACITA Ternyata Penemu Musik Adalah Orang Islam teror Thaharah Thomas Hobbes Tokoh Tragedi Karbala tragedi pembantaian keluarga nabi Tribute to International Quds Day 2012 Tuhan tuhan yang ghaib Tujuan Karbala Tukang cukur Tukang cukur dan Keberadaan Tuhan TV Indosiar Merevisi Fitnah Tentang "Syiah Wukuf di Karbala" Ubay ibn Ka’ab udul Ufuk ukhuwah ukhuwah Islam ukhuwah Sunni Syiah ulama Ulama Sunni Ulama Syiah Ulama Tafsir ulil amri Ulumul Qur'an Ummul Mu`minin Aisyah Berkisah Tentang Kemuliaan Sayyidah Fatimah as undang-undang undang-undang ketenagakerjaan uqala'i Urgensi Ukhuwah Islamiyah amp; Ukhuwah Wathoniyah Ushul Fikih Ustadz Muhsin Labib: Kilas Balik Murtadha Muthahhari Ustadz Taufiq Ali Yahya tentang Tawassul Uswah Video Videos Wafat Wajibul Wujud wali wali faqih Wali Sanga Wani Ngalah Luhur Wekasane wanita wanita muslim wanita muslimah wanita pilihan Warga Syiah Tolak Ubah Keyakinan Wartawan Koran Independent 'Shock' Berkisah Liputannya Tentang Long March Arbain Wasiat Imam Ali Kepada Umat Islam Wasiat Imam Jafar Shadiq Wawancara Wawasan Keislaman Wayang Kulit Wiladah "Sang Penunggang Terbaik" Wilaya'iyah Fakih wilayah Wirid As Sakran wudhu Yaman Yang paling menakjubkan Yazid berkuasa Yazid Naik Tahta Yesus dalam pandangan Imam Ali Bin Abi Thalib as yunani Zainab Cucu Rasulullah SAW Ziarah Kubur zulfikar
false
ltr
item
syiahnusantara.com: Ghadir Khum & Kaum Orientalis
Ghadir Khum & Kaum Orientalis
http://www.syiahmenjawab.com/wp-content/uploads/masyhad-ali.jpg
syiahnusantara.com
https://www.syiahnusantara.com/2014/09/ghadir-khum-kaum-orientalis.html
https://www.syiahnusantara.com/
http://www.syiahnusantara.com/
http://www.syiahnusantara.com/2014/09/ghadir-khum-kaum-orientalis.html
true
1073726697356742094
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy